Mak Sawir Sang "Raja Bagurau"
Nama: Sawir Sutan Mudo
“Saya pesan kopi pahit saja,” kata Sawir saat ditawari sarapan. “Ada masalah rumah tangga,” ujarnya pendek ketika disinggung mengapa ia tak pulang kepada istrinya, Syakni Deliyarti (52), di Kampung Tengah Sawah, Bukittinggi.
Biodata
Lahir: Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, tahun 1942
Pendidikan: Sampai kelas IV SR
Istri: Syakni Deliyarti (52)
Anak:
- Sumiati
- Syafrial
- Syarfil
- Kurniawati
- Rina Rahmadani dan Rini Ramadani (kembar)
- Fatimah Zahara
- Fajori Rachman
MAESTRO ARBY SAMAH
Kata ABSTRAK muncul satu persatu. Tanda Tanya muncul perlahan. Mulai dari kecil dari belakang. Tanda Tanya berhenti di belakang huruf K, sebentar lalu terus membesar maju membelah layar.
Abstrak. Itu kata pertama yang muncul dalam kepala ketika nama perupa ini terucapkan. Seolah-olah, ketika kamus abstrak dibuka, mantan mahasiswa ISI Yogya ini berada diurutan pertama.
Semua pengamat seni dan media massa cetak dan elektronik yang menulis tentang dirinya mengakui hal tersebut. Ia lah puncak menara dari aliran yang sebenarnya tidak populer dikalangan perupa Indonesia.
Cita-citanya jadi perupa mungkin memang telah ‘disengaja’. Dalam artian, sejak kecil, sejak orang tuanya melihat ia mengepal-ngepal tanah liat, menjadi perupa sudah mengalir dalam darahnya sejak ia dilahirkan 1 April 1933. Apalagi ia dibesarkan dalam keluarga yang juga bergelut dalam dunia songket.
Songket tidak hanya mengajarinya menyulam, tapi juga mengenali siapa dirinya. Apa latar kehidupannya. Dan perlahan membentuk landasan yang kuat ketika memilih dunia rupa nantinya.
Untuk mengasah kemampuannya, kemudian orang tuanya mengirim ke Kayutanam. Di mana, sebuah sekolah, INS mengajarkan bagaimana mandiri sebagai seorang manusia. Lebih dari itu, INS hanyalah kolam kecil bagi bakatnya yang begitu besar.
Ini disadari oleh A.A. Navis dan Ramudin. Dengan rekomendasi keduanya, Pak Arby menjadi satu-satunya pelajar dari Sumatra yang dikirim ke ISI Yogya yang waktu itu bernama ASRI Yogyakarta.
Menjadi perupa tidak dijalaninya dengan mudah. Begitu selesai membuat lukisannya yang pertama, bukan pujian yang ia dapat, malah sebaliknya. “Padang Bengkok, tidak bisa melukis. Kembali saja ke Padang!” teriak seorang pelukis tenar, Hendra Gunawan, waktu itu.
Tapi, Minangkabau dan INS mengajarkannya bahwa puji-pujian hanya untuk Tuhan. Meski sempat tersentak, Arby Samah bangkit. Meski hanya tidur dari kotak yang dibuatnya sendiri dan kadang-kadang tidur di bawah tangga dan di luar apabila purnama datang, Arby Samah menekuni dunia rupa lebih giat.
Ia bahkan pernah jatuh sakit karena kehidupan tak teratur itu. Namun, dalam sebuah tulisan Ciman Marah, seorang muridnya, dengan dramatis menceritakan hanya dengan melukislah penyakit Pak Arby sembuh. Dan “Lukisan itu bagus,” kata pelukis Trubus.
Ketekunan itu membuahkan hasil yang tidak lama. Pada lustrum pertama ASRI, patung ‘Potret Diri’ Pak Arby menjadi cover katalogus. Saat itulah, untuk pertama kali, nama Arby Samah mulai dilirik orang.
Namun, jauh di lubuk hatinya, Arby bukanlah orang yang cepat puas. Patung berjenis realis dalam katalog itu memantik sesuatu dalam dirinya. Begitu juga ketika ia berhasil membuat patung tanpa model yang membuat orang terkagum-kagum padanya, malah membuatnya tambah gelisah.
Mungkin karena ia orang Islam, mungkin karena ia orang Minang. Dimana, eksitensi patung menjadi koloni paradoks. Wilayah abu-abu, yang mesti penuh hati-hati dalam menjamahnya.
Mungkin karena itu pula ia kemudian memilih abstrak sebagai alat ucapnya. Tanpa bentuk figuratif, tanpa model, hanya imajinasi tapi penuh kreatifitas tinggi.
Tidak semua orang mendukung pilihannya, begitu hasilnya terlihat. Banyak yang berkerut kening. Banyak yang berdecak tak suka bahkan Presiden Soekarno. “Saya tak suka abstrak,” tegas Presiden Indonesia pertama itu.
Kecewalah teman-teman yang mendukungnya, yang sudah berharap Arby akan kaya karena Soekarno pasti akan memberi fasilitas ‘lebih’ pada seniman yang disukainya.
Sekali lagi, Arby tidak patah hati. Saya mematung bukan untuk presiden, ucapnya suatu kali. Mungkin karena kecewa, mungkin karena kesenimanannya.
Ia punya keyakinan, “Seorang seniman itu, harus mempunyai imajinasi dan daya visualisasi yang kuat. kemudian hal ini dipadukan dengan hati nurani dan piiran sehingga melahirkan karya yang sarat makna dalam berbagai dimensi.”
Jadi memang tak ada ruang untuk presiden dan lainnya.
Karya dan pameran tak henti-henti dilakukannya. 39 karya patung, 59 karya lukis, berpuluh pameran dalam dan luar negeri dilakoninya. Sampai kemudian ia dikukuhkan sebagai pelukis abstrak pertama di Indonesia.
Abstrak. Kata yang dilekatkan kritikus seni dan media massa padanya. Ia pun membenarkan. Namun, abstrak bisa jadi hanya jalan keluar karena tidak menemukan ‘apa’ yang dibuat Pak Arby.
Dengan keislaman dan Keminangannya, hal ini patut ditelisik kembali. Arby jelas tidak punya budaya seperti Henry Moore. Si Pembuka Jalan bagi aliran abstrak. Ia mungkin tidak berpikir untuk menjadi Henry Moore Indonesia.
Para pengamat dan media massa kesulitan untuk menemukan identitas patung Arby. Apabila dilihat dari latar belakang kehidupannya, Arby jauh dari abstrak. Atau ia mengenal ‘Abstrak dalam bentuknya yang lain.
Seperti yang dijelaskan Wisran Hadi, ‘abstrak’ Arby akan terjelaskan apabila menelusuri seni rupa Minangkabau. Ukiran itik pulang patang misalnya. Adakah itik dalam ukiran itu? Adakah petang?
Tidak ada. Yang ada hanya imajinasi dalam menangkap karya itu, kemudian diserahkan pada penikmat bagaimana apresiasinya. Bahkan garis kasar dan tidak enak dilihat dalam karya-karyanya tidak mengurangi isi kelembutan yang ingin disampaikannya.
Jadi, Arby bukan pematung abstrak? Mungkin juga tidak sepenuhnya benar. Sekali lagi, itu hanya jalan keluar untuk menjelaskan apa yang dibuat Arby. Bagi Arby sendiri ada yang lebih penting.
Sebuah pilihan lain, yang berada di luar lingkup kesenian, yang direngkuhnya, membuat sebagian orang bertanya-tanya, terkejut dan tak mengerti.
Pilihannya memasuki birokrasi pemerintah. Menjadi pegawai negeri. Sebuah pilihan yang lebih tidak populer –dibanding memilih mematung abstrak– melihat potensi yang ada dalam dirinya. Kenapa? Ada apa?
Mungkin juga karena ada enam mulut yang mesti diberinya makan. Mungkin karena menggantungkan diri dari patung –apalagi yang abstrak- tidak bisa menghidupinya. Arby mesti memilih. Dan tanggungjawabnya pada manusia lain membuatnya memilih.
Mulailah ia bekerja menjadi pegawai pada museum AD di Yogyakarta pada tahun 1960. enam tahun kemudian ia pindah ke Direktorat Kebudayaan di Jakarta. Lima tahun mendekam di Jakarta, Arby ‘dipulangkan’ dan menjabat kepala Bidang Kesenian di depdikbud Sumatra Barat. 18 tahun dilakoninya. Ia kemudian menjabat kepala SMSR Padang sampai 1993. Sampai masa pensiunnya.
Maasa itu, Pak Arby masih mematung. Masih pameran. Namun, menjadi PNS, mau tak mau, membuat energi kesenimananya terbelah. Pameo “menjadi pegawai membuat seniman mati” hampir saja melekat pada dirinya.
Pak Arby mencoba kembali meraihnya setelah pensiun dari tugas kepegawian. Itu, “Hampir saja terlambat,” kata Wisran Hadi dalam sebuah tulisannya.
Namun bagi seorang seniman., kata terlambat tidak ada dalam dunia kesenimanan. Yang ada mungkin hanya ‘jeda’. Wilayah tempat mengumpulkan tenaga. Untuk meraih puncak kedua.
Mungkin juga ia lebih memantapkan apa yang diyakininya sebagai seorang Islam, seniman, ayah, kakek, sekaligus penghulu bagi kaumnya.
Jika tercapai, Arby Samah telah memahat dirinya menjadi seniman yang tak terlupakan. Yang tidak bisa dihapus sejarah. Narasi: S Metron M/DKSB
MAESTRO ARBY SAMAH
Kata ABSTRAK muncul satu persatu. Tanda Tanya muncul perlahan. Mulai dari kecil dari belakang. Tanda Tanya berhenti di belakang huruf K, sebentar lalu terus membesar maju membelah layar.
Abstrak. Itu kata pertama yang muncul dalam kepala ketika nama perupa ini terucapkan. Seolah-olah, ketika kamus abstrak dibuka, mantan mahasiswa ISI Yogya ini berada diurutan pertama.
Semua pengamat seni dan media massa cetak dan elektronik yang menulis tentang dirinya mengakui hal tersebut. Ia lah puncak menara dari aliran yang sebenarnya tidak populer dikalangan perupa Indonesia.
Cita-citanya jadi perupa mungkin memang telah ‘disengaja’. Dalam artian, sejak kecil, sejak orang tuanya melihat ia mengepal-ngepal tanah liat, menjadi perupa sudah mengalir dalam darahnya sejak ia dilahirkan 1 April 1933. Apalagi ia dibesarkan dalam keluarga yang juga bergelut dalam dunia songket.
Songket tidak hanya mengajarinya menyulam, tapi juga mengenali siapa dirinya. Apa latar kehidupannya. Dan perlahan membentuk landasan yang kuat ketika memilih dunia rupa nantinya.
Untuk mengasah kemampuannya, kemudian orang tuanya mengirim ke Kayutanam. Di mana, sebuah sekolah, INS mengajarkan bagaimana mandiri sebagai seorang manusia. Lebih dari itu, INS hanyalah kolam kecil bagi bakatnya yang begitu besar.
Ini disadari oleh A.A. Navis dan Ramudin. Dengan rekomendasi keduanya, Pak Arby menjadi satu-satunya pelajar dari Sumatra yang dikirim ke ISI Yogya yang waktu itu bernama ASRI Yogyakarta.
Menjadi perupa tidak dijalaninya dengan mudah. Begitu selesai membuat lukisannya yang pertama, bukan pujian yang ia dapat, malah sebaliknya. “Padang Bengkok, tidak bisa melukis. Kembali saja ke Padang!” teriak seorang pelukis tenar, Hendra Gunawan, waktu itu.
Tapi, Minangkabau dan INS mengajarkannya bahwa puji-pujian hanya untuk Tuhan. Meski sempat tersentak, Arby Samah bangkit. Meski hanya tidur dari kotak yang dibuatnya sendiri dan kadang-kadang tidur di bawah tangga dan di luar apabila purnama datang, Arby Samah menekuni dunia rupa lebih giat.
Ia bahkan pernah jatuh sakit karena kehidupan tak teratur itu. Namun, dalam sebuah tulisan Ciman Marah, seorang muridnya, dengan dramatis menceritakan hanya dengan melukislah penyakit Pak Arby sembuh. Dan “Lukisan itu bagus,” kata pelukis Trubus.
Ketekunan itu membuahkan hasil yang tidak lama. Pada lustrum pertama ASRI, patung ‘Potret Diri’ Pak Arby menjadi cover katalogus. Saat itulah, untuk pertama kali, nama Arby Samah mulai dilirik orang.
Namun, jauh di lubuk hatinya, Arby bukanlah orang yang cepat puas. Patung berjenis realis dalam katalog itu memantik sesuatu dalam dirinya. Begitu juga ketika ia berhasil membuat patung tanpa model yang membuat orang terkagum-kagum padanya, malah membuatnya tambah gelisah.
Mungkin karena ia orang Islam, mungkin karena ia orang Minang. Dimana, eksitensi patung menjadi koloni paradoks. Wilayah abu-abu, yang mesti penuh hati-hati dalam menjamahnya.
Mungkin karena itu pula ia kemudian memilih abstrak sebagai alat ucapnya. Tanpa bentuk figuratif, tanpa model, hanya imajinasi tapi penuh kreatifitas tinggi.
Tidak semua orang mendukung pilihannya, begitu hasilnya terlihat. Banyak yang berkerut kening. Banyak yang berdecak tak suka bahkan Presiden Soekarno. “Saya tak suka abstrak,” tegas Presiden Indonesia pertama itu.
Kecewalah teman-teman yang mendukungnya, yang sudah berharap Arby akan kaya karena Soekarno pasti akan memberi fasilitas ‘lebih’ pada seniman yang disukainya.
Sekali lagi, Arby tidak patah hati. Saya mematung bukan untuk presiden, ucapnya suatu kali. Mungkin karena kecewa, mungkin karena kesenimanannya.
Ia punya keyakinan, “Seorang seniman itu, harus mempunyai imajinasi dan daya visualisasi yang kuat. kemudian hal ini dipadukan dengan hati nurani dan piiran sehingga melahirkan karya yang sarat makna dalam berbagai dimensi.”
Jadi memang tak ada ruang untuk presiden dan lainnya.
Karya dan pameran tak henti-henti dilakukannya. 39 karya patung, 59 karya lukis, berpuluh pameran dalam dan luar negeri dilakoninya. Sampai kemudian ia dikukuhkan sebagai pelukis abstrak pertama di Indonesia.
Abstrak. Kata yang dilekatkan kritikus seni dan media massa padanya. Ia pun membenarkan. Namun, abstrak bisa jadi hanya jalan keluar karena tidak menemukan ‘apa’ yang dibuat Pak Arby.
Dengan keislaman dan Keminangannya, hal ini patut ditelisik kembali. Arby jelas tidak punya budaya seperti Henry Moore. Si Pembuka Jalan bagi aliran abstrak. Ia mungkin tidak berpikir untuk menjadi Henry Moore Indonesia.
Para pengamat dan media massa kesulitan untuk menemukan identitas patung Arby. Apabila dilihat dari latar belakang kehidupannya, Arby jauh dari abstrak. Atau ia mengenal ‘Abstrak dalam bentuknya yang lain.
Seperti yang dijelaskan Wisran Hadi, ‘abstrak’ Arby akan terjelaskan apabila menelusuri seni rupa Minangkabau. Ukiran itik pulang patang misalnya. Adakah itik dalam ukiran itu? Adakah petang?
Tidak ada. Yang ada hanya imajinasi dalam menangkap karya itu, kemudian diserahkan pada penikmat bagaimana apresiasinya. Bahkan garis kasar dan tidak enak dilihat dalam karya-karyanya tidak mengurangi isi kelembutan yang ingin disampaikannya.
Jadi, Arby bukan pematung abstrak? Mungkin juga tidak sepenuhnya benar. Sekali lagi, itu hanya jalan keluar untuk menjelaskan apa yang dibuat Arby. Bagi Arby sendiri ada yang lebih penting.
Sebuah pilihan lain, yang berada di luar lingkup kesenian, yang direngkuhnya, membuat sebagian orang bertanya-tanya, terkejut dan tak mengerti.
Pilihannya memasuki birokrasi pemerintah. Menjadi pegawai negeri. Sebuah pilihan yang lebih tidak populer –dibanding memilih mematung abstrak– melihat potensi yang ada dalam dirinya. Kenapa? Ada apa?
Mungkin juga karena ada enam mulut yang mesti diberinya makan. Mungkin karena menggantungkan diri dari patung –apalagi yang abstrak- tidak bisa menghidupinya. Arby mesti memilih. Dan tanggungjawabnya pada manusia lain membuatnya memilih.
Mulailah ia bekerja menjadi pegawai pada museum AD di Yogyakarta pada tahun 1960. enam tahun kemudian ia pindah ke Direktorat Kebudayaan di Jakarta. Lima tahun mendekam di Jakarta, Arby ‘dipulangkan’ dan menjabat kepala Bidang Kesenian di depdikbud Sumatra Barat. 18 tahun dilakoninya. Ia kemudian menjabat kepala SMSR Padang sampai 1993. Sampai masa pensiunnya.
Maasa itu, Pak Arby masih mematung. Masih pameran. Namun, menjadi PNS, mau tak mau, membuat energi kesenimananya terbelah. Pameo “menjadi pegawai membuat seniman mati” hampir saja melekat pada dirinya.
Pak Arby mencoba kembali meraihnya setelah pensiun dari tugas kepegawian. Itu, “Hampir saja terlambat,” kata Wisran Hadi dalam sebuah tulisannya.
Namun bagi seorang seniman., kata terlambat tidak ada dalam dunia kesenimanan. Yang ada mungkin hanya ‘jeda’. Wilayah tempat mengumpulkan tenaga. Untuk meraih puncak kedua.
Mungkin juga ia lebih memantapkan apa yang diyakininya sebagai seorang Islam, seniman, ayah, kakek, sekaligus penghulu bagi kaumnya.
Jika tercapai, Arby Samah telah memahat dirinya menjadi seniman yang tak terlupakan. Yang tidak bisa dihapus sejarah. Narasi: S Metron M/DKSB
Rusli Marzuki Saria
Maestro Sastra dari Sumatra Barat
My Imagination is a monastery and I am its monk. Imajinasiku adalah biara dan aku adalah biarawannya. Ungkapan dari John Keats yang dikutip sang tokoh ini dalam sebuah esainya amat tepat menjelaskan proses kreatifnya sebagai seorang penyair. Memang begitulah seorang Rusli Marzuki Saria. Ia seakan ditakdirkan untuk jadi seorang penyair yang menempatkan imajinasi sebagai ranah yang amat luas untuk melahirkan karya-karya puisinya.
Rusli Marzuki Saria yang akrab disapa Papa ini dikenal sebagai seorang sastrawan-budayawan yang karya-karyanya tak bisa dilepaskan dari khazanah kesusastraan Indonesia dalam 50 tahun terakhir. Puisi-puisinya dimuat dalam berbagai media yang ada di Indonesia sejak tahun 1950-an. Ia pun sering tampil dalam berbagai pentas pembacaan puisi di berbabagai kota di tanah air.
Pada 22 Juni 1981, atas undangan Dewan Kesenian Jakarta, Papa membacakan 65 pusinya di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Iven pembacaan dan diskusi puisi ini menjadi momentum penting dalam riwayat kepenyairan Papa sebagai seorang sastrawan nasional yang tinggal di daerah. Dalam ajang inilah para sastrawan dan kritikus sastra nasional mengakui keberadaan Rusli sebagai seorang penyair.
Bersastra Sepanjang Hayatnya
Rusli lahir pada tanggal 26 Januari 1936 di Nagari Kamang Mudik, kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam. Ayahnya bernama Marzuki—seorang kepala nagari yang juga punya usaha bendi dan pembuatan sadah. Ibunya bernama Sarianun. Marzuki mempunyai 23 orang istri, Sarianun—ibunya Rusli adalah istrinya yang ketujuh. Sebagai seorang anak, pada tahun 1942 Rusli memulai jenjang pendidikan formal dengan memasuki Sekolah Rakyat (Volkschool).
Pada tahun 1946, ibunya meninggal dunia. Oleh ayahnya, Rusli kemudian dibawa tinggal dii Labuah Silang Payakumbuh. Di kota ini Marzuki meneruskan usaha bendi dan pembuatan sadah. Di kota ini pula Rusli meneruskan sekolahnya yakni ke SD Muhammadiyah di Simpang Bunian. Setamat sekolah dasar Rusli melanjutkan studinya ke SMP Sore Payakumbuh Bahagian Bahasa.
Pada tahun 1953, Marzuki—ayahandanya Rusli meninggal dunia. Kenyataan ini membatalkan cita-cita Rusli untuk kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta. Berbekal ijazah SMP, Rusli bekerja di Kepolisian yakni di Kantor Koordinator 106 Mobrig (sekarang Brimob) di Bukittinggi. Ia bertugas mengurusi surat masuk dan keluar. Di samping bekerja pada kantor kepolisian di pagi hari, pada sore harinya, Rusli melanjutkan pendidikannya pada SMA Sore Sendiakala Bukittinggi dan ia berhasil meraih ijazah SMA-nya dengan jurusan Bahasa tiga tahun kemudian.
Semenjak sekolah rakyat, minat Rusli pada sastra sudah mulai terlihat. Sejak itu ia sudah membaca buku-buku sastra yang ada di perpustakaan sekolahnya. Cerita-cerita rakyat seperti Kepala Sitalang, Laras Simawang dan Bukit Tambun Tulang sudah mulai dinikmatinya. Ia juga sudah melahap karya-karya sastra seperti Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Layar Terkembang-nya Sutan Takdir Alisjahbana dan Di Bawah Lindungan Ka’bah-nya Buya Hamka. Pada masa SMA makin beragamlah karya-karya yang dibaca Rusli. Mulai dari Chairil Anwar, Sjahrir, Asrul Sani, hingga karya-karya penulis asing seperti Rabinranath Tagore, John Steinbeick, Hemingway dan lainnya. Kelak, bacaan-bacaannya ini amat memengaruhi puisi-puisi Rusli.
Tak hanya menyukai bacaan sastra, Rusli juga banyak membaca karya-karya pemikiran dari berbagai aliran baik itu Islam, liberal atau bahkan Marxis. Bacaan-bacaannya itu menjadikan Rusli sebagai seorang mampu berpikir independen. Ia tak terjebak pada dogma pemikiran apa pun. Ia mengagumi beberapa hal dari liberalisme dan marxisme, akan tetapi ia tetap menjadikan Islam sebagai pijakan hidupnya. Namun ia tidak memahami Islam dalam pengertian sempit dan fanatis, tetapi ia menempatkan Islam sebagai ajaran yang mendorong orang pada optimisme, kreativitas, intelektualitas dan keindahan.
Dengan bacaan yang demikian beragam dan luas makin menarik minat Rusli untuk menulis puisi. Pada tahun 1955, untuk pertama kalinya puisi Rusli berjudul Nenekku Pergi Suluk dimuat di surat kabar Nyata yang terbit di Bukittinggi. Pada tahun yang sama, Rusli bersama AA Navis, Lo Fai Hap dan Nasrul Siddik dipercaya mengisi Ruangan Sastra di RRI Bukittinggi.
Pada tahun 1956 Rusli lolos tes untuk jadi anggota Mobrig. Dengan pangkat Sersan ia diangkat menjadi Agen Polisi Kepala di Kantor Koordinator 106 Mobrig Bukittinggi. Namun, diproklamirkannya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada Januari 1958, membuat karir Rusli di Kepolisian berakhir karena ia memilih bergabung dengan PRRI untuk berjuang dalam menghadapi tekanan Pemerintah Pusat.
Keterlibatannya dalam PRRI memaksa Rusli berjuang keluar masuk hutan. Peristiwa pergolakan ini menjadi periode sejarah penting dalam kehidupan Rusli. Di tengah perang berkecamuk; berbagai derita, kepiluan yang dialami rakyat Sumatra Barat, dirasakan Rusli dengan membatin. Sebagai seorang penyair, ia menuangkan suasana batinnya itu dalam sejumlah puisi yang kemudian dibukukan dengan judul Ada Ratap Ada Nyanyi.
Usai PRRI, meski ada peluang, Rusli tak lagi ingin jadi polisi. Sejak Juli 1961, Rusli menetap di Padang. Ia mangkal di Pasar Mudik dan Pasar Hilir sebagai pedagang jatah atau pedagang perantara.. Banyak jenis dagangan yang dijualnya, di antaranya adalah batik.
Pada 4 Mei 1963, di kampung halamannya, Rusli menikah dengan Hanizar Musa—gadis yang dikenalnya pada masa PRRI. Dari pernikahannya ini, Rusli dikaruniai empat orang anak: Fitri Erlin Denai, Vitalitas Vitrat Sejati, Satyagraha dan Diogenes. Pada tahun ini juga Rusli bekerja sebagai Kepala Tata Usaha di Koperasi Batik Tulis. Di samping bekerja di koperasi ini, bersama beberapa sastrawan seperti Leon Agusta, Dalius Umari, Mursal Esten, Chairul Harun dan Upitha Agustine, Rusli mengisi acara Ruang Sastra Daerah Persinggahan di RRI Padang.
Pada tahun 1969, Rusli mengawali karirnya sebagai wartawan. Rusli bergabung dengan harian Haluan yang mana ia sendiri ikut sebagai pendirinya. Pada awalnya Rusli bekerja sebagai sekretaris redaksi. Namun kemudian ia juga menjadi redaktur berita yang sering juga turun meliput berbagai peristiwa. Kemudian Rusli mengasuh halaman sastra sebagai redaktur kebudayaan. Salah satu rubrik sastra yang ia buat adalah rubrik Monolog dalam Renungan. Karena faktor usia, Rusli pensiun dari Haluan pada tahun 1999. Tetapi sampai kini ia tetap punya rubrik di harian ini yakni rubrik Parewa Sato Sakaki.
Jurnalis yang Menyair
Tetap meneruskan karir sebagai wartawan, pada tahun 1987 Rusli terpilih menjadi anggota DPRD Padang untuk periode 1987-1992 dan ia duduk di Komisi Pembangunan. Dalam menjalankan aktivitasnya sebagai anggota DPRD, Rusli tetap kelihatan sebagai seorang penyair. Dalam beberapa sidang ia kerap membaca puisi. Di antara pusi yang dibacakannya adalah Rakyat karya Hartono Andangjaya. Di tengah kesibukannya sebagai wakil rakyat, Rusli tetap menulis puisi. Di antaranya, Sang Waktu Berbisik Aku Mengangguk, Wang 100 Ribu Rupiah Per Desa dan Mentawai Bisa Tenggelam.
Aktivitas Rusli sebagai sastrawan tak hanya sekadar menulis puisi dan menjadi wartawan. Pada tahun 1994 ia ikut bergabung di Dewan Kesenian Sumatra Barat (DKSB). Pada tahun tahun 1995 ia ditunjuk sebagai bendahara pada organisasi ini, posisi yang tetap dipercayakan padanya sampai tahun 2003. Sebagai wartawan, banyak tempat yang telah ia kunjungi, baik dalam negeri hingga ke manca negara. Pada tahun 1977 ia diminta meliput latihan perang antara Angkatan Laut Indonesia dan Austarlia di Great Barrier Reef (Coral Sea), Australia bagian timur. Pada Oktober 1984, ia juga diundang Kedubes Jerman untuk meliput Farnkfurt Books Fair. Di negara ini ia melihat hal yang sangat mengagumkan yakni dukungan penuh Pemerintahan Jerman untuk dunia pendidikan.
Sebagai sastrawan, banyak peristiwa kesusastraan yang telah diikuti Rusli. Ia sering diundang ke berbagai pertemuan sastrawan baik di tingkat nasional maupun Asia Tenggara. Kehebatannya pun sebagai sastrawan membuatnya meraih penghargaan dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Melalui karyanya Sembilu Darah lembaga ini memberinya Penghargaan Penulisan Karya Sastra Tahun 1997.
Sebagai seorang penyair, Rusli mempunyai tempat tersendiri dalam khazanah sastra di Indonesia. Puisi-pusinya amat kuat berpijak pada tradisi lokal yang berangkat dari tradisi Minangkabau. Seperti ditulis oleh Dasril Ahmad dalam skripsinya yang ditulis pada tahun 1986, puisi-puisi Rusli banyak dipengaruhi cerita-cerita kaba baik dari segi struktur, persamaan latar dan penokohan maupun unsur musikalitas atau iramanya. Makanya, nuansa lokal keminangan amat terasa dalam banyak puisi Rusli. Amat jarang penyair yang memilih lokalitas sebagai pijakan inspirasi puisi, namun Rusli berani melakukannya.
Puisi-puisi Rusli adalah puisi dengan lirik-lirik sederhana yang melukiskan kenyataan hidup yang dialami sehari hari. Di sisi lain puisi-puisi Rusli juga ada yang bernuansa hiporbolik dan dipenuhi kata-kata simbolik. Tema-temanya berangkat dari kenyataan sosial, politik, ekonomi, budaya yang dialami masyarakat di sekitarnya. Ia juga menulis puisi tentang pemberontakan, gugatan terhadap adat dan tradisi maupun krtitik sosial dan politik. Puisinya berjudul Putri Bunga Karang adalah gugatan terhadap tradisi. Puisi ini juga memperlihatkan pengaruh kaba yang amat kuat. Pusi-puisinya seperti Sajak-sajak Parewa, Sajak-sajak Bulan Pebruari, Beri Aku Tambo Jangan Sejarah, dan Berjalan ke Sungai Ngiang amat jelas memperlihatkan nuansa lokal dan pengaruh kaba. Keprihatinan dan kecemasannya terhadap Kota Padang juga ia ungkapkan lewat puisinya Padang Kotaku.
Sekarang, di usianya yang sudah 71 tahun, Papa Rusli masih kelihatan segar dan kuat. Badannya masih langsing dan sehat karena rajin berolah raga. Ia masih kelihatan keren dengan celana jeans dan kaus oblong, pakaian kesukaannya. Sehari-harinya masih aktif dalam berbagai kegiatan terutama menulis dan membaca. Berbagai karya terkini baik sastra, filsafat dan pemikiran keislaman tetap dilahapnya. Malam hari ia beraktivitas di masjid dekat rumahnya. Habis salat subuh ia pergi maraton hingga jam tujuh pagi.
Namun sebagai seorang penyair, mantan polisi, mantan pejuang, mantan politisi, wartawan dan budayawan, banyak pergulatan hidup baik duka maupun suka yang telah dilaluinya. Membaca sosok Rusli adalah membaca riwayat panjang perjalanan hidup seorang anak manusia dengan berbagai warna-warni yang pernah dilaluinya. Sebagaimana ditulisnya dalam Monolog dalam Renungan, membaca puisi adalah membaca sejarah. Begitu pula membaca puisi-puisi Rusli, berarti membaca sejarah hidupnya.
Sebagai seorang penyair, wartawan, pejuang dan politisi, Rusli adalah seorang idealis yang berani menyatakan kebenaran yang dirasakannya. Makanya untuk menggambarkan idealisme Rusli, amatlah tepat yang dikatakan Umar bin Khatab, “Ajarilah anakmu sastra, agar ia menjadi pemberani.” Narasi oleh Abel Tasman
Yusaf Rahman
Maestro Seni Musik Kontemporer Minang
Yusaf Rahman, lahir tanggal 4 Juni 1933, di Muaro Labuah, Sumatra Barat. Kampung kecilnya bernama Kampung Lurah Pasar Muaro Labuah (sekarang dikenal dengan Pasar Muaro Labuah). Yusaf, anak sulung dari dua belas bersaudara. Ayahnya seorang mantri kesehatan (juru rawat kelas satu) dan juga pemain biola. Ibunya yang bernama Badariah juga mahir memainkan kecapi, walau di zaman itu jarang sekali perempuan bisa bermain alat musik.
Darah seni kedua orang tua itulah yang diwarisinya. Bakat yang kemudian berkembang dengan belajar secara otodidak. Yusaf mencoba menggunakan sendiri berbagai alat musik tanpa guru. Walau dulunya kuliah di Fakultas Pertanian, kemampuan, wawasan, dan pengetahuannya dalam bidang komposisi musik, tak diragukan lagi. Musiklah yang dicintainya.
Yusaf juga seorang yang kreatif dalam mengembangkan alat-alat musik dan membuat alat musik dari bahan-bahan sederhana. Dia selalu membawa kikir dan pisau untuk membuat alat musik tiup dari bambu dan paralon. Satu lompatan besar yang dibuat Yusaf dalam musik tradisi Minangkabau yaitu menciptakan tangga nada diatonis untuk talempong pada tahun 1968. Talempong yang selama ini dimainkan dengan nada pentatonis dikembangkannya menjadi tangga nada diatonis.
Dengan tangga nada diatonis talempong bisa mengiringi musik modern. Hingga kini, semua grup musik tradisional Minangkabau memainkan talempong dengan tangga nada diatonis. Beliau juga mengembangkan teknik pembuatan alat musik yang akurat nadanya serta mengembangkan cara memainkan musik modern agar menghasilkan suara alat musik tradisional.
Selain bermain musik, Yusaf juga menciptakan lagu-lagu Minang, Jepang, lagu nasional dan beberapa lagu perguruan tinggi di Sumatra Barat. Sejak tahun lima puluhan Yusaf telah berkarya. Di zaman perang PRRI pun beliau masih mencipta lagu, yaitu lagu “Hiasan Desa”. Waktu itu beliau terinspirasi oleh suara burung di Hutan Maek, Kabupaten Lima Puluh Kota.
Lagu-lagu lain yang diciptakannya antara lain; Indak Kabarulang, Kelok Sambilan, Lindok-lindok, Perak-perak, Takana Bundo (Rusuah Hati), Usah Diratok’I, Taserak Kasiah di Bukik Tinggi, Indahnya Alam Neg’ri Moyangku, Indonesia-Malaysia, Dendang Tahniah, Kota Bersaudara, Payung Terkembang, Seri Menanti, ASMI Padang, Himne Universitas Bung Hatta, YPTK Padang, Indonesia Persada Tercinta. Lagu Jepang yang beliau ciptakan antara lain; Kwo wa Owakare (Saatnya Berpisah), Mata Aimasyo (Sampai Berjumpa Lagi) dan Nihon wa Utsukusu (Jepang Yang Indah).
Lagu Payung Terkembang dan Indahnya Alam Negeri Moyangku merupakan lagu permintaan Datuk Samad Idris Menteri Belia dan Sukan Malaysia yang masih keturunan Pagaruyung. Rasa cinta Yusaf terhadap tanah air juga terlukiskan dalam lagu Hiasan Desa dan Rusuah Hati.
Musik jugalah yang mengantarkannya ke berbagai negara. Pada tahun 1963 sebagai pemusik beliau pergi ke Pakistan mengikuti Presidential Cultural Mission selama dua puluh hari. Beliau beberapa kali ke Malaysia sejak tahun 1968 sampai 1998 sebagai pemimpin misi Muhibah Kesenian Sumatra Barat, pemusik dan sebagai juru latih serta sebagai pensyarah musik. Pada tahun 1984 Yusaf pergi ke Prancis sebagai peserta Festival Kesenian Rakyat Seluruh Dunia, dan tahun 1986 kembali ke Prancis sebagai Pemimpin Kesenian Islam Sumbar dalam Festival Kesenian Islam Seluruh Dunia, serta pada tahun 1991 untuk ke dua kalinya pergi ke Prancis sebagai peserta Festival Kesenian Rakyat Seluruh Dunia. Beliau juga pernah ke Brunei Darussalam pada tahun 1989 sebagai pemimpin kesenian Sumatra Barat dan pada tahun 1987 ke Yunani, tepatnya di Lefkada sebagai peserta International Festival Folk Lore Lefkadas Island. Negara Eropa lainnya yang pernah ia kunjungi, Italia, yakni pada tahun 1986 sebagai pemimpin kesenian Islam Sumbar dalam Festival Musik Islam Seluruh Dunia dan tahun 1987 beliau kembali ke Italia sebagai peserta pertunjukkan kesenian.
Guru Musik yang Beda
Yusaf adalah guru bagi banyak seniman musik di Sumatra Barat. Beliau mendirikan jurusan seni, drama, tari dan musik IKIP Padang dan bekerja sebagai dosen di IKIP Padang. Yusaf adalah orang yang diminta Profesor Yakub Isman yang waktu itu rektor IKIP padang untuk menyusun kurikulum jurusan tersbut. Selain sebagai sebagai guru formal beliau juga guru informal bagi banyak seniman musik. Ia tidak pernah pelit membagi ilmu pada murid-muridnya.
Salah seorang murid Yusaf Rahman yang dikenal sebagai seniman musik dan pencipta lagu-lagu Minang bernama Asnam Rasyid. Asnam mengenal beliau sejak tahun 1968 ketika Yusaf pergi ke Malaysia sebagai pemimpin tim Muhibah Kesenian Sumatra Barat. Kebetulan Kakak dari Asnam ikut dalam tim yang dipimpin Pak Cap, panggilan Yusaf Rahman bagi murid-muridnya dan orang-orang yang mengenalnya. Namun Asnam baru belajar musik dengan Yusaf pada tahun di Bukittinggi. Yusaf mengajar tentang partitur dan ilmu musik. Dalam mengajar, murid-murid beliau dituntut mencari sendiri pengetahuan dan ketrampilan, selain yang beliau ajarkan. Banyak seniman yang “menjadi” di bawah bimbingan beliau. Yusaf dan Asnam pernah menggarap musik dari lagu “Dendang Tahnia”
Informal yang Bersahaja




Pak Cap dikenal sebagai orang yang kurang suka formalitas. Dalam mengajar Pak Cap tak minta pamrih dan tak kenal waktu. Prinsip mengajar yang sering beliau sampaikan “Kalau ingin tahu gula itu manis, coba dulu gula itu, baru tahu rasanya.” Metode mengajar yang langsung praktek.
Waktu pertama diminta sebagai pengajar di Malaysia (professor tamu) beliau mengajar musik tardisional. Suatu waktu, Dekan mengajak Pak Cap melihat peralatan marching band dan beliau memainkan semua alat musik modern yang ada di sana. Karena kemampuan beliau memainkan berbagai alat musik modern, beliau akhirnya dipercaya mengajar alat musik modern. Dari tahun 1993 sampai 1997 Yusaf Rahman menjadi dosen tamu di Universitas Utara Malaysia.
Beliau juga mengenal budaya dan tradisi berbagi suku dan bangsa. Bisa berbicara dalam beberapa bahasa asing dan bahasa-bahasa daerah seperti bahasa Aceh, Melayu, Mandailing dan Nias.
Pak Cap menikah dengan Sovyani pada tanggal 23 Agustus 1964. Istri tercinta juga seorang seniman tari. Selama perjalanan rumah tangga mereka, Yusaf sering membantu Sovyani menciptakan musik untuk tari garapannya. Pernikahannya dengan Sovyani dikaruniai lima orang putri dan satu orang putra.
Yusaf sangat mencintai keluarganya. Salah satu lagu yang diciptakannya, konon terinspirasi karena kecintaan beliau kepada sang istri. Beliau juga penuh kasih sayang terhadap anak-anaknya. Menurut seorang putri beliau, kalau anak-anaknya pulang sekolah dengan wajah cemberut karena gagal ujian matematika beliau mengajak mereka bermain musik, karena baginya musik bisa menenangkan dan menghibur hati yang gundah.
Pada tahun dua ribu-an beliau mulai diserang penyakit jantung. Ketika sering terjadi gempa di Padang, beliau meminta untuk tinggal di Bandung bersama anaknya. Beliau khawatir, seiring usia senja tubuhnya semakin lamban saat berlari menghindari bencana. Akhirnya beliau meninggal di Kota Bandung pada tanggal dan dilepaskan dengan duka yang mendalam banyak pihak. Namun beliau sudah berpesan sebelumnya agar jangan bersedih dengan kepergian beliau, seperti syair yang ditulisnya “Usah Dirato’i”.
Sebagai seorang yang berjiwa seni, beliau memiliki kepekaan terhadap kehidupan. Kehidupan dunia yang penuh dengan godaan tidak membuat Yusaf terhanyut. Keinginannya untuk lebih dekat dengan sang Khalik diberi jalan melalui pertemuannya dengan Professor Khadirun Yahya yang juga pimpinan tarekat Nahsyabandiyah. Akhirnya beliau mengembangkan kehidupan spiritual di tarekat Nahsyabandiyah sampai akhir hayatnya. Beliau pun berwasiat, bila meninggal minta dimakamkan di surau tarekat Nahsyabandiyah, tempat orang-orang berzikir seperti nyanyian yang mengantar beliau ke hadirat “Sang Maha Seniman”. (Sondri BS, dan TIM DKSB)
SAWIR SUTAN MUDO
Seni Tradisi Dendang Minang
Nama : Sawir Sutan Mudo
Tempat dan Tanggal Lahir: Nagari Koto Kaciak, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat pada tahun 1942
Pekerjaan: Berdagang dan Berdendang
Pendidikan: Sekolah Rakyat
Anak: 8 orang
Karya dan Pergalaman Kesenian
- Pada Juli 1999 tampil di tujuh kota di Jerman bersama Kelompok Musik Talago Buni
- Mengisi Acara Bergurau di RRI Bukittinggi setiap hari Senin.
- Pada 1968-1970 lagu Talago Biru dan Suntiang Patah Batikam direkam di piringan hitam dan diedarkan ke tengah masyarakat
- Sejak tahun 1972 sampai dengan tahun 2000 sudah lebih 100 rekamannya di pita kaset yang beredar luas dan dikoleksi masyarakat Minang di kampung dan perantauan, juga dikoleksi sejumlah peneliti. Antara lain, Danau Mamukek (1985), Hujan Baribuik (1985), Danau Mamukek (1985), Banda Gantuang (1985), Sarasah Aia Badarun, Katangih Sudah Mimpi, Talempong Anam Koto, Ratok Kaki Limo
- Pernah empat kali juara pertama festival saluang dengan dendang, dan juga pernah jadi dosen tamu di Akademi Seni Karawitan Indonesia (sekarang Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Padangpanjang.
Prihatin dengan Isi Dendang
Sebagai seorang seniman tradisi di ranah ini, ia menyimpan keprihatinan mendalam akan kondisi kekinian kebudayaan, adat, dan tradisi Minang. Ia menilai, Minang dalam pengertian luas mengalami kemerosotan luar biasa. Kekhawatirannya itu terungkap lewat sampiran penuh peringatan; “Jaan sampai rusak kapa dek nangkhododoh, binaso kayu dek tukang, rusak adat dek pangulu, jalan dialiah dek urang lalu. (Jangan sampai rusak kapal disebabkan oleh nakhoda, hancur kayu karena tukang, rusak adat karena penghulu, jalan digeser orang lewat).
Sebagai seorang pendendang, dia pun resah dengan lagu-lagu dendang yang ada saat ini. Dendang saat ini telah dirusak oleh lirik-lirik yang berbau pornografi yang semata-mata hanya mengedepankan hiburan semata, namun terperangkap dalam selera rendahan. Lagu-lagu dengan judul Kutang Barendo, Rok Baremot dan sejenisnya adalah ekspresi dari makin merosotnya daya cipta seniman Minang saat ini.
Itulah keresahan dari Sawir Sutan Mudo—seorang pendendang, seniman tradisi sejati yang hingga saat ini tetap mencipta dan melantunkan dendang. Sawir—bungsu dari empat bersaudara ini lahir di Nagari Koto Kaciak, Tanjung Raya. Kabupaten Agam pada tahun 1942. Kedua orangtua Sawir adalah petani. Ibunya bernama Siti Saleah dan ayahnya Muhammad Isa. Sawir telah ditinggal kedua orangtuanya sejak ia masih kanak-kanak. Ibunya meninggal dunia tak lama setelah ia lahir. Sedangkan ayahnya berpulang ke rahmatullah saat Sawir berusia enam tahun.
Karena ditinggal kedua orangtua sejak masih kanak-kanak, Sawir harus belajar hidup mandiri. Ia tak sempat meniti jenjang pendidikan formal yang tinggi. Ia hanya bersekolah sampai kelas empat Sekolah Rakyat. Putus dari sekolah, Sawir pergi merantau mengikuti saudara-saudaranya. Padang, Palembang, Lubuk Linggau adalah kota-kota tempat Sawir merantau. Sejak umur 13 tahun Sawir sudah berdagang berbagai macam barang dagangan. Pada tahun 1968 barulah Sawir kembali ke kampung halaman. Pada tahun itu pula ia menikah untuk pertama kalinya. Dari pernikahannya yang pertama ini Sawir memunyai seorang putri bernama Sumiati. Pada tahun 1972 Sawir menikah lagi. Dengan istrinya yang kedua Sawir memunyai tujuh orang anak. Sekarang bersama keluarganya ini, Sawir menetap di Bukittinggi.
Bakat Sawir sebagai pendendang sudah terasah sejak masih kanak-kanak. Ia bergabung dengan grup randai yang ada di kampungnya sebagai penyanyi randai. Sejak itu pula Sawir belajar pada seorang seniman alam bernama Angku Katik; ”Baguru mangko pandai (berguru makanya pandai),” ungkap Sawir tentang proses belajar yang ia lalui.
Berguru pada Alam
Kemampuannya sebagai seniman makin terasah setelah di perantauan. Pada masa itu para perantau Minang di mana pun berada selalu membangun kelompok-kelompok kesenian sebagai wadah bagi anak-anak rantau untuk memupuk bakat seni yang dimiliki. Namun sekarang, kebiasaan ini sudah hampir hilang, orang Minang pun terdesak dan dipaksa menikmati kesenian populer yang membanjir saat ini. Seni tradisi Minang makin lama makin terpinggir, bahkan di pelosok-pelosok nagari pun, kesenian tradisi Minang hampir musnah sama sekali.
Dalam tradisi Minang ada seni yang disebut bagurau. Bagurau dilakukan dengan saluang jo dendang tidak hanya pada acara pernikahan, tetapi juga pada acara sunatan, “Alek Nagari” (acara menghimpun dana untuk pembangunan di kampung), Lebaran, batagak panghulu (pengukuhan gelar adat/kaum) serta pada acara bagurau lamak (dengan kalangan pendengar terbatas, 10-15 orang). Sawir kerap diundang dalam acara-acara demikian
Sejak di perantauan Sawir sudah dikenal sebagai pendendang. Dan ketika kembali ke kampung halaman, kemampunnya berdendang tetap diteruskan. Tak hanya menyanyikan lagu-lagu dendang, Sawir juga mencipta puluhan lagu dendang yang sampai sekarang masih sering dibawakan banyak pendendang. Suntiang Patah Batikam (tahun 1970), Talago Biru (1968), Danau Mamukek (1985), Hujan Baribuik (1985), Danau Mamukek (1985), Banda Gantuang (1985), Sarasah Aia Badarun, Katangih Sudah Mimpi, dan Talempong Anam Koto adalah di antara lagu-lagu dendang ciptaan Sawir. Malereang Tabiang salah satu versi lagunya juga merupakan ciptaannya.
Sekarang, Sawir tetap berdendang bila diundang. Baik ke acara baralek, batagak pangulu, dan tampil di acara-acara yang diundang orang rantau. Sawir juga sering diundang tampil ke berbagai pertunjukan kesenian, baik di Sumatra Barat, ke berbagai daerah di Sumatra, maupun ke Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Tak hanya itu, bersama grup Talago Buni, pada bulan Juli 1999 Sawir pernah tampil di tujuh kota di Jerman. Di samping diundang untuk bernyanyi dan berdendang, Sawir juga diminta sebagai pembicara pada beberapa seminar tentang kesenian dan budaya tradisi.
Waktu tampil di beberapa pertunjukan dan festival internasional itulah, Sawir merasa bahwa karya seni bisa menjadi alat untuk menjalin komunikasi antarbangsa meski tak mengerti bahasanya. Melalui karya seni kita bisa mengenal karakter dan nilai-nilai yang dimiliki oleh beragam bangsa. Dan ternyata, kekayaan seni tradisi yang dimiliki Minangkabau bisa mendapat tempat penting dalam khazanah seni dunia.
Untuk itulah, bagi seorang Sawir, kekayaan seni tradisi Minang harus dipelihara, digali terus menerus dan diwariskan pada generasi berikutnya. Seni tradisi Minang memiliki keluhuran nilai-nilai yang sangat kuat berpijak pada akar kebudayaan Minang yang senantiasa mengedepankan kebaikan, budi pekerti dan kandungan estetika yang amat tinggi. Seni tradisi merupakan media untuk pendidikan adat istiadat, budaya dan agama. Lewat seni tradisi, ketinggian mutu nilai-nilat keminangkabuan tetap terpelihara dan terwariskan.
Sawir tak menolak mentah-mentah kesenian Minang kontemporer yang mencoba berkompromi dengan arus budaya populer. Namun Sawir berharap, jangan terlalu jauh menyimpang. Etika dan prinsip-prinsip adat dan budaya Minang mestinya tetap dijaga. Kalau tidak orang Minang sendiri yang menjaganya, kesenian tradisi Minang akan musnah ditelan zaman yang makin lama makin dikendalikan uang.
Kesenian Minang dalam hal ini dendang, menurut Sawir punya bahasa tersendiri untuk menyampaikan pesan. Dendang tak hanya berisikan kepiluan dan problem batin yang dialami seseorang, masyarakat maupun etnik Minang, tapi dendang juga punya idiom dan bahasa tersendiri yang mengisahkan romantika asmara dan gejolak perasaan yang dialami anak muda. Bahasa dendang amat indah, halus dan penuh dengan irama. Jauh dari kata-kata vulgar, kasar dan nuansa pornografi yang menunjukkan kerendahan. Dendang juga punya ruang untuk mengekspresikan kegembiraan yang biasa disebut bagurau. Dalam bagurau, ekspresi keriangan, kelucuan dan kejenakaan disajikan, namun tetap dengan bahasa yang santun, indah dan berpijak pada estetika yang kuat.
Bagi Sawir, dendang tak ditentukan oleh kemerduan suara sang pendendang, tapi lebih ditentukan oleh pemahaman yang kuat seorang pendendang tentang adat, budaya, agama dan persoalan yang terjadi di tengah masyarakat yang kemudian disampaikan melalui lirik dan irama dendang dengan penuh perasaan dan imajinasi yang amat tinggi. Dendang juga merupakan tangisan seorang pendendang. Dalam konteks ini, seorang pendendang adalah seorang cerdik cendikia atau intelektual yang mencoba mengingatkan masyarakat dan lingkungannya.
Untuk itulah, bagi Sawir seni tradisi harus tetap digali, dikembangkan, dipelahara dan diwariskan pada generasi berikutnya. Adalah omong kosong, slogan baliak ka nagari, adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah terus digaungkan, tapi budaya dan seni tradisi diabaikan. Lembaga dan penanggung jawab kesenian harus membantu, mendorong dan memfasilitasi perkembangan kesenian tradisi. Dengan demikian, badan-badan pemerintah yang bertanggung jawab dalam bidang kesenian dan kebudayaan mesti diisi orang-orang yang memunyai kompetensi yang memadai di bidang ini. Hampir tak bisa diharapkapkan, seni dan budaya tradisi akan berjaya jika tetap dipimpin orang-orang yang salah tempat dan tak memiliki tanggung jawab.
Itulah seorang Sawir Sutan Mudo, seorang maestro dendang yang sampai sekarang tetap berdendang. Di samping berdendang, kesehariannya ia jalani dengan berdagang pakaian seken dari pekan ke pekan di sekitar danau Maninjau. Di setiap Senin malam ia juga mengisi acara dendang di RRI Bukittinggi. Namun berdagang kaki lima pada masa sekarang katanya tak lagi terlalu menguntungkan. Ekonomi masyarakat semakin sulit. Makanya, lewat lagu ciptaannya yang baru, Ratok Kaki Limo, keresahannya itu ia sampaikan.
Bagi Sawir, seni tradisi harus tetap dijaga dan diwarisi. Seni tradisi adalah penopang adat. Jika seni tradisi tetap terpelihara, akan terjaga pula adat dan budaya. Jika seni tradisi rusak, rusak pula adat. Jika adat rusak, hilang pusako dan hancurlah budaya.
Dendang dan Posisi Pedendang
Nada dasar yang dominan dalam saluang dengan dendang adalah ratok, nada-nada yang meratap. Bila pendendang bercerita soal nasib manusia, maka nasib manusia itu disimbolkan pada sesuatu dengan cerdas lewat pantun-pantun. Umumnya pendendang mewakili masyarakat marjinal.
Jadi, dalam kesenian saluang dengan dendang, yang sangat berperan sekali adalah pendendang. Dari hitungan jari sebelah tangan pendendang lelaki yang kini masih eksis, hanya ada seorang pendendang yang punya yang kuat dan terkenal di Sumatra Barat dan luar Sumatra Barat, bahkan di mancanegara, yakni Sawir Sutan Mudo.
Sawir Sutan Mudo mengaku tidak dengan serta merta menjadi terkenal. Penuh lika-liku dan perjuangan. Bermula dari anak randai (pemain teater tradisional Minangkabau) di Kotokaciak, Kabupaten Agam, pada usia 13 tahun. Saat itu, tugas yang diembannya adalah sebagai pendendang.
Tahun 1951, karena tuntutan hidup, ia merantau ke Palembang, Sumatra Selatan. Di rantau, di samping menggalas buah-buahan di kaki lima ia tetap mengembangkan kesenian tradisi. “Saya menyintai kesenian tradisi randai dan saluang jo dendang, karena pantun-pantun atau syair-syair dalam kesenian itu sangat menarik dan mengandung unsur pendidikan. Selain itu saya tertantang untuk membuat pantun-pantun yang bisa membuat penikmat kesenian tradisi itu puas dan terkesan,” kata Sawir.
Sebagai pendendang, Sawir belajar dari pengalaman, belajar dari alam: alam takambang jadi guru. Seorang pendendang, menurut dia, harus kaya bahan, kalau tidak tak akan diterima masyarakat. Dari pantun-pantun itu, ada yang berisi nasihat, perasaan hidup, dan asmara muda-mudi. Saking tersentuhnya perasaan para penikmat seni tradisi itu, sering orang menangis spontan karenanya. Itu salah satu kelebihan Sawir. Ia secara spontan mampu mengembangkan improvisasi dalam pantun. Pada sampiran dari pantun, ia selalu bisa mengolah dari lingkungan tempat ia bermain (orang, tempat),” kata Yusrizal KW, pengamat seni dan Ketua Yayasan Citra Budaya Indonesia, menilai.
Makanya jangan heran, saking cerdasnya pantun-pantun yang dibuat Sawir ini, baris-baris pantunnya sering diambil untuk inspirasi dan judul-judul lagu-lagu pop Minang dewasa ini. Bahkan ratusan pantun yang ia ciptakan kini sudah menjadi dendang-dendang tradisi, seperti antara lain “Suntiang Patah Batikam”, “Banda Guntuang”, “Hujan Baribuik”, “Danau Mamukek”, dan “Talempong Anam Koto”. (Abel Tasman, dan Tim DKSB)
Maestro Musik Tradisi Minang
Nama: Islamidar
Tempat dan Tanggal Lahir: Nagari Talang Maua, Kecamatan Mungka, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, 16 Juli 1941
Pekerjaan: Penjaga sekolah dasar yang difungsikan sebagai kesenian
Pendidikan: Sekolah Rakyat
Karya dan Pengalaman Seni
: Di Indonesia misalnya, di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) beberapa kali, di Taman Ismail Marzuki (TIM) beberapa kali, dan di Surabaya.
Di luar negeri, misalnya di Malaysia 9 (sembilan) kali, di Eropa 5 kali: Belanda, Yunani, Jerman, dan Spanyol. Di Asia selain Malaysia, pernah tampil Brunei, Singapura, dan Jepang.
Suaranya merintih lirih namun merdu kala melantunkan syair/ lagu dendang sampelong yang diiringi saluang bansi yang mengalun. Dialah Islamidar yang akrab disapa Tuen oleh penduduk kampung sekitar. Tuen lahir pada 16 Juli 1941 di Nagari Talang Maua, Kecamatan Mungka, Kabupaten Lima Puluh Kota. Di nagari itu pula ia tinggal hingga hari ini. Tuen adalah pewaris dan penjaga seni sampelong, salah satu seni tradisi Minang yang masih eksis sampai saat ini. Sejarah hidup Tuen identik dengan perkembangan sampelong itu sendiri.
Tuen memang berasal dari keluarga yang berdarah seni. Ibunya adalah pelantun dendang sampelong yang juga pandai memainkan gendang. Sedang sang ayah adalah seorang qari yang mahir membaca ayat-ayat suci Al-Quran dengan irama yang enak di telinga. Kakeknya adalah seorang pemain gambus. Begitu pula etek dan mamaknya.
Irama sampelong adalah irama yang dimainkan dengan saluang sejenis bansi. Dulunya, sampelong adalah sejenis irama musik yang dinyanyikan pada saat menggampo gambir. Saat itu sampelong tak pakai dendang. Kalaupun ada dendang berirama sampelong, tapi musik pengiringnya adalah talempong. Baru sejak tahun 1965, sampelong pakai dendang. Syair/lagu dendang sampelong lebih banyak berkisah tentang kepahitan hidup, keperihan nasib, kegagalan cinta, kemiskinan dan segala kenestapaan lainnya. Lirik-lirik sampelong adalah elegi: nasi dimakan serasa sekam, air diminum serasa duri.
Sampelong, sebagaimana dituturkan Tuen sudah ada di Minangkabau sebelum kedatangan Islam ke ranah ini. Nada sampelong adalah nada-nada lagu Budha. Ini dibuktikan dengan kesamaannya dengan nada yang ada di Thailand—sebuah bangsa yang kebudayaan dan seninya berakar pada agama Budha dan juga di Palembang—daerah yang pernah menjadi tempat berkembangnya agama Budha.
Sampelong berbeda dengan basirompak, baik alat yang yang digunakan maupun lagu yang dimainkan. Basirompak dimainkan dengan saluang biasa dengan syair lagu-lagu dendang yang berupa mantra-mantra jahat yang dulunya merupakan alat penyampai guna-guna. Namun sekarang, kata Tuen, basirompak juga bisa dialihkan ke seni yang bernilai baik dan enak didengar.
Sejak kecil, Tuen sudah akrab dengan musik tradisi Minang. Pada usia enam tahun ia sudah diajarkan oleh neneknya memainkan talempong. Hingga dewasa, Tuen tak hanya trampil memainkan talempong (talempong pacik) dan berdendang sampelong, tapi ia juga mampu memainkan akordeon dan pianika. Di samping itu, ia juga bisa memainkan seni musik dikia (seni musik Islam). Tak ketinggalan, Tuen juga bisa berdendang basijobang—sejenis dendang yang diiringi musik yang bersumber dari hentakan kotak korek api yang berkisah tentang Anggun Nan Tongga dan Putri Gondoriah. Menurut Tuen, sebutan Basijobang berasal dari gelar Anggun Nan Tungga yaitu Magek Jabang (jadilah Basijobang).
Tuen, sang maestro seni musik tradisi ini berumah tangga pada tahun 1969. Hingga sekarang ia mempunyai lima orang anak—yang salah seorang dari putranya juga meneruskan bakat seni yang diwariskannya. Sebagai seorang seniman, sejak tahun 1970-an Tuen sudah sering tampil di acara-acara resepsi pernikahan atau baralek. Ia mulai tampil ke publik yang lebih luas pertama kali pada acara Pekan Budaya Minang di Payakumbuh. Sejak itu, berbagai pentas seni budaya sering ia ikuti. Sejak beberapa tahun belakangan, di setiap Selasa malam dan Sabtu malam, ia tampil di Bukittinggi.
Kesungguhan dan kepiawaian dalam berkesenian mendapatkan perhatian dari pemerintah. Ia diminta mengajar di sekolah dasar di kampungnya. Namun karena hanya berijazah Sekolah Rakyat (sekolah dasar), Tuen resminya hanya diangkat sebagai pegawai penjaga sekolah, namun fungsinya adalah sebagai seorang guru. Di SD Negeri 02 Talang Maua, Tuen mengajar kesenian sampai saat ini. Namun ternyata, karena kemampuannya—Tuen jadinya tak hanya mengajarkan kesenian, tapi juga mengajar matematika dan pendidikan agama. Untuk materi pendidikan agama, Tuen menciptakan lagu-lagu yang berisikan kisah-kisah kehidupan para rasul dan nabi. Ia juga menciptakan lagu tentang Rukun Islam dan Rukun Iman. Lagu-lagu yang berisikan pendidikan agama untuk sekolah dasar ini sudah ada yang diproduksi dalam bentuk kaset rekaman.
Hari-hari Tuen dIjalani dengan penuh kesibukan. Bangun setiap subuh. Usai salat ia membuka kedai dan kemudian bersiap untuk berangkat mengajar ke sekolah pada jam tujuh pagi. Setelah pulang dari sekolah sekitar jam 13.30, Tuen menghabiskan waktunya duduk di kedai miliknya sampai jam 10.00 malam. Di samping melayani pembeli, Tuen mengisi waktu dengan memeriksa tugas-tugas sekolah murid-muridnya. Di saat-saat itu pula Tuen menciptakan lagu sambil terus mendendangkannya. Pada setiap Jumat malam, Tuen berlatih dengan kelompoknya untuk persiapan tampil di Bukittinggi besok harinya. Selesai salat Ashar setiap Selasa dan Sabtu, Tuen bersiap untuk berangkat ke Bukittinggi. Sering ia hanya berjalan kaki sejauh delapan kilometer sampai ke Mungka, dari sini baru ia naik bus menuju Bukittinggi
Di samping mampu berdendang dan memainkan alat musik, Tuen juga mempunyai kemampuan sebagai seorang akademisi. Ia bisa menciptakan lagu disertai not balok. Penglihatannya yang sudah terganggu sejak usia muda tak menghalanginya untuk mencipta. Layaknya seorang seniman sejati yang juga punya talenta sebagai akademisi, Tuen memiliki pengalaman, pemahaman dan pengetahuan yang kaya tentang seni tradisi. Ia layak menjadi narasumber yang tak pernah kering untuk digali.
Sebagai seorang seniman yang bertalenta akademisi, Tuen juga menyampaikan kritik yang cukup tajam terhadap perguruan tinggi seni. Ia menilai, seni musik tradisi hampir tak berkembang di perguruan tinggi seni, lebih sering hanya memainkan lagu itu ke itu saja. Ia mencontohkan permainan talempong, hanya berputar pada Cak Din-din dan Tigo Duo. Ia juga menyayangkan, anak-anak muda kini yang enggan untuk meneruskan seni tradisi yang berakar dari negeri ini sendiri.
Begitulah seorang Tuen, hidupnya terus mengalir, ia berkarya tak pernah henti. Sejarah menakdirkannya sebagai seorang seniman sejati, pewaris, penjaga dan pelestari seni tradisi.
Transkripsi hasil wawancara dengan Bapak Islamidar
Pada 4 Mei 2002 di Padang Jopang,
Kabupaten Limo Puluh Kota , Sumatra Barat
Bermusik seperti Mencintai Manusia
Wawancara dengan Islamidar dilakukan oleh Yusriwal, salah seorang staf pangajar Fakultas Sastra Universitas Andalas (kini Yusriwal telah berpulang kerahmatullah pada 16 Januari 2005 akibat kecelakaan). Berikut wawancara itu.
Bagaimana Bapak belajar sampelong?
Tidak sengaja diturunkan. Cuma, karena sudah umum semua orang tua-tua pandai memankan alat musik sampelong, dengan sendirinya kita bisa saja. Asal ada bakat, bisa pandai. Waktu kecil, saya dininabobokan, dibuai oleh ibu dengan lagu seperti itu (lagu-lagu berirama sampelong—red):
lolok lah sayang (tidur lah sayang)
lolok lah lolok (tidur lah tidur)
(Islamidar menyayikannya)
Saya dibesarkan dengan dendangan seperti itu. Hal itu betul-betul meresap dalam jiwa, sehingga tidak perlu dipelajari secara khusus.
Selain lagu-lagu, Bapak juga membawakan kaba dengan alat musik sampelong, bagaimana cara belajarnya?
Hanya dengan mendengar saja. Dengarkan tukang kaba bercerita, kita cobakan. Artrinya, tidak disengaja berguru atau belajar.
Kalau ada anak muda yang ingin belajar, bagaimana prosesnya sampai mahir memainkan sampelong?
Begitu juga. Dicoba saja. Jika urang tua, mereka diminta mendengarkan dam memberi kritikan. Seprti itu, tidak diajar khusus. Dicoba, ditanyakan ke orang tua: “sudah bagus atau belum.”
Dulu, sampelong berkaitan dengan unsur magis. Kalau ada yang ingin melihat, bisa Bapak tampilkan?
Tidak bisa. Sebab, untuk meaminkannya harus dalam sebuah tim: seorang tukang sampelong, tukang dendang, tukang gasiang (gasing), dan seorang yang memerankan sesuai dengan efek yang diinginkan. Jika pemeran merobek baju, yang dituju akan merobek baju pula. Begitu seterusnya.
Seperti apa syair-syair yang digunakan untuk sampelong magis?
Karena tak pernah lagi dimainkan, sudah banyak yang lupa. Pokoknya syair tersebut ditujukan ke seseorang:
kok lolok tolong jagoan (kalau tertidur tolong bangunkan)
kok jago suruah ka iko (kalau bangun suruh ke sini)
suruah…(suruh…)
Ada irama khusus Pak?
Iyo, umbuik mudo.
Selama Bapak main sampelong, pernahkan Bapak menggunakan unsur magis tersebut?
Tidak, sebab haram hukumnya. Hal itu pula yang menyebabkan kesenian ini dilarang oleh para ulama. Kini, karena usur magis itu sudah dihilangkan, tidak dilarang lagi.
Bapak tidak belajar secara khusus?
Tidak, tapi diwariskan secara alamiah. Mereka yang mau belajar akan pandai, yang tidak mau tidak akan pandai.
Proses pembuatan sampelong melalui cara-cara dan tahapan-tahapan tertentu. Talang yang digunakan harus yang tumbuh di tempat sakral dan lain sebagainya. Kalau sekadar belajar, apakah harus mengikuti cara dan tahapan tertentu tersebut?
Tidak. Sampelong ada dua macam: khusus untuk guna-guna dan sebagai alat tiup biasa. Kalau untuk yang kedua, tidak dperlukan tata cara tahapan tertentu tersebut. Bisa saja dgunakan bambu untuk mengambil kelapa atau bambu yang telah digunakan sebagai jemuran kain. Dulu, kalau ada orang meninggal, meratapi orang meninggal pun digunakan irama sampelong:
ondeh nak ei bajalan sonjo kau nak ei (onde berjalan di senja hari anak ei)
umah godang sia nan kamaunyi nak ei (rumah gadang siapa yang akan menghuninya)
Para istri yang ditinggal suami pun, kalau bernyayi akan menggunakan irama itu. Namun, orang sekarang tidak tahu lagi dengan irama tersebut
Di Tolang, apakah ada perempuan yang mahir memainkan sampelong?
Dulu ada, sekarang tidak. Untuk main biasa, bukan untuk guna-guna.
Dalam penampilan, bisakah sampelong digabung dengan alat musik lain?
Hanya bisa dengan gendang dan biasanya pada lagu-lau yang berirama gembira. Bisa juga dalam menyampaikan hikayat atau kaba. Gendang yang dipakai adalah rebana. Irama lagu-lagu sampelong dapat diketogorikan:
Sedih:
· Kubang Balambak
· Mudiak Manguih
· Lobuah Lengkok
· Maalau Kobau
· Batu Putiah
· Mudiak Likih
Gembira:
· Ontak Tabuang
· Kayu Dalok
Khusus:
· Umbuik Mudo – untuk simbabau dan sjundai
· Puti Talayang – untuk membawakan kaba
Irama Umbuik Mudo:
· tuan tun kotik dongkak
· Tun kotik nan panjang ongok
· Langkah nan batingkah-tingkah
· Balari nan batingkah duo
· Obuak nan panjang di balakang
· Obuak tagerai di kuduak o ….
· Dimano lobuah nan golong
· Tuan lah balari di situ
· Dima pasea nan rami tuan lah tibo di situ
· Hancua luluah di batang agam
Irama Puti Talayang:
Ado kapado suatu hari, Puti Talayang, inyo bakato bakeh kakaknyo, nan banamo si Ganjo Erah, “ Oi kakak si Ganjo Erah kak ei…., poi lah kito poi mandi, etan ka sumua tigo rono.”
Mandonga kato nan baitu, jadi manyauik e Ganjo erah, “ Adiak e Puti Talayang……”
Untuk kaba, iramanya itu saja. Orang akan terfokus pada cerita bukan pada irama. Tidak pakai alat musik pun iramanya tetap seperti itu.
Bagamana tanggapan masyarakat?
Kini, kesenian ini tidak begitu diminati. Sudah menjadi barang langka. Tidak ada minat dari masyarakat untuk mengembangkan atau belajar. Dapat dikatakan minat mereka sudah mati.
Apakah kesenian ini pernah diajarkan di sekolah?
Bagiaman mana mau mengajarkannya kepada anak SD? Kurikulum untuk itu tidak ada. Waktu yang disediakan untuk kesenian hanya dua jam untuk empat mata pelajaran: seni suara, rupa, tari, dan keterampilan. Mengajar anak-anak kesenian tradisional tidak sulit. Tangga nada sampelong la do re mi. Daerah di Nusantara yang mempunyai kemiripan dengan sampelong adalah: Dayak, Toraja, Tengger, Kubu, dan Semang (Malaysia). Nada ini dipengaurhi oleh agama Budha. Setelah Islam masuk, ia tetap tinggal di daerah pedalaman. Di Muangthai saya menumukan juga irama yang sama. Secara tidak sengaja saya pernah mendengar di radio sana, sebuah lagu yang diiringi dengan irama seperti ini.
Adakah perbedaan tangga nada sampelong dengan laras pelog dan selendro?
Nada sampelong mirip dengan selendro, cuma ada dua nada yang turun seperempat (1/4). Tangga nadanya sol la do re mi, la dan mi turun seperempat. Selendro jarak antara la dan do rapat, sampelong jarang karena la turu dan mi turun. Pelog: do mi fa sol si du, jauh sekali bedanya dengan sampelong. Irama Pasaman diatonik, dibandingkan diatonik, sampelong tidak memiliki nada si dan fa.
Sejak kapan Anda menyukai musik?
Kalau suka dengan musik, mungkin sejak dari lahir. Mengapa? Masih kuat dalam ingatan saya, mungkin masih berumur setahun, Pobo (kakaknya) saja mungkin tidak ingat, ketika Etek saya kawin dengan Mak Kutea, saya tidur menelentang, bantal di sisi kiri, kain di sisi kanan, sebuah gramofon didupkan:
tong kak-tong kak tum, tong kak- ton kak tum (menirukan bunyi rebana dipukul)
talipuak layua nan dondam, lai anak rang Tolang (menyanyi).
Penyanyinya Kinah dan Naimah. Saya sudah ingat walau umur saya masih satu tahun. Mulai main musik tradisional umur 5 (lima) atau 6 (enam) tahun. Pada waktu itu tangan saya dituntun oleh almarhum Andek (nenek).
Siapa yang mengajar Anda pertama sekali?
Mandiang Andek, ibu dari ibu.
Kalau dari orang tua?
Kami sekeluarga boleh dikatakan keluarga pemusik: Pak Etek tukang dikia, Ibu pemain gambus, Etek tukang gambus, kakek pemain talempong, nenek pemain talompok, bapak pemain biola. Akibatnya, musik bagi kami bukanlah sesuatu yang asing.
Apa alat musik yang bisa Anda mainkan?
Alat tradisonal yang saya kuasai adalah talempong, Gendang. Alat tiup krang dikuasai, namun kalau gendang, jenis apa pun, bisa saya mainkan. Seni tradisional saya bisa memainkan akordion, harmonium, dan pianika.
Bagaimana tanggapan Anda terhadap musik Minangkabau sekarang?
Musik Minangkabau saat ini: pencipta melahirkan musik yang bagus, namun selera penikmat bukan ingin musik bagus, tetapi ingin goyangnya bagus. Akibatnya lagu sedih dimainkan dengn musik gembira. Jika lagu Zalmon yang dinyanyikan, kita yang mendengar tidak merasakan kepedihan yang ada dalam lagu tersebut. Jadi sasaran yang diinginkan pencipta tidak tercapai. Itu yang menyebab lagu-lagu tersebut tidak bertahan. Lain halnya dengan lagu Minangkabau dulu. Lagu tari payuang misalnya, tidak pernah berubah.Makin diolah makin bagus.
Anda bisa membaca not balok, sedangkan penusik tradisi tidak ada yang bisa…
Anda jangan marah kepada saya. ASKI (sekarang STSI) tidak bisa mengolah not balok. Sekolah apa itu (nada bicaranya tinggi). Mestinya semuanya dengan not: talempong dengan not, beduk saja bisa dibuat not baloknya. Tamatan ASKI dikasih not balok, tidak bisa baca. Akademi apa namanya yang seperti itu. Tamatan akademi musik tapi tidak bisa membaca not balok.
Dengan siapa Anda pertama belajar not balok?
Pertama sekali dengan Syahril, di Koto Kociek, anak mamak saya. Setelah mulai bisa, saya melanjutkannya sendiri. Kemudian berlanjut ketika saya bertemu dengan Nizam, Pak Cap (Yusaf Rachman-red), dan beberapa orang lain.
Mengapa Anda merasa perlu belajar not balok?
Agar mudah menerima dan memberikan musik. Apa saja yang didengar saya bisa menyimpan dalam bentuk not balok, walaupun yang didengar itu hanya suara gendang misalnya. Kalau tidak bisa not balok tidak bisa menuliskan bagaima bunyi gendang, misanya: tum tak tumtak-tak tum, tak tum tak-tak tum. Bagaimana menuliskan bunyi seperti itu kalau tidak pakai not balok. Kalau dengan not angka tidak akan bisa.
Selama ini kita diperbodoh oleh si Panjang Hidung, Belanda. Mereka yang mengajar kita not angka sehingga buta dengan not balok. Di luar negeri tak satu pun orang yang memakai not angka. Orang Amerika memakai not balok ditambah kode untuk motif. Dengan demikian not balok amerika sangat fleksibel. Jika dipakai untuk vokal pakai kode vokal, untuk gendang pakai kode gendang, dst.
Dengan not balok kita cepat dapat memainkan suatu alat dan cepat menentukan tinggi rendahnya sebuah nada.
Mengenai pendidikan musik di sekolah, apakah kurikulum musik kita yang salah?
Tidak. Dalam kurikulum 75, not angka hampir tidak diajarkan lagi. Namun, dalam pelaksanaannya not angka masih diajarkan. Selain itu, penerbit buku. Mereka tidak paham dengan musik tapi menulis buku musik, yang ditulis bukan not balok tapi not angka.
Guru pun mencampurkan pengajaran not angka dengan not balok. Maksud kurikulum adalah bahwa angka hanya dipakai menandai nomor jari, bukan untuk dibaca.
Bisakah orang yang sama sekali tidak mengenal not angka bisa belajar not balok?
Bisa, bahkan orang yang buta dengan angka pun bisa. Kalau sudah kenal motif kemana saja bisa: untuk vokal beri kode vokal, untuk gendang beri dum dan tak. Persoalan lain adalah, ada nilai yang tidak sama antara not balok dengan not angka. Kalau diberikan keduanya kan anak didik jadi bingung. Nilai titik pada not angka sama dengan nilai not itu sedangkan pada not balok titik nilainya setengah.
Menurut anda adakah kaitan antara musik dengan menyikapi hidup?
Banyak. Main dalam suatu kelompok misalnya, kita harus menjaga kebersamaan, bagaimana kita terangkat secara bersama. Ini akan mengurangi kalau tidak sama sekali menghilangkan sikap egois. Begitulah kita dalam bernasyarakat.
Kemudian disiplin. Kita harus taat aturan. Ketinggalan sedikit saja, nada akan menjadi sumbang. Ktukan harus pas, tidak boleh lebih atau kurang.
Dalam disiplin ini, berapa ketukan kesalahan yang bisa ditolerir?
Tidak dapat ditolerir seperseribu ketukan pun.
Anda bisa akordion, pianika, keduanya bukan alat musik Minangkabau? Mengapa Anda mau memainkannya? Adakah pengaruh musik tersebut ke musik tradisi Minangkabau?
Ada. Akordion sudah lama di pakai dalam musik-musik tradisi Minangkabau. Gamad dan gambus memakai akordeon. Akordeon bukan lagi alat musik modern tapi semi modern atau atau semi tradisi di Minangkabau. Akordeon banyak membawa musik-musik bernafaskan Islam. Lagu-lagu kasidah dan gambus tidak bisa dibawakan dengan Saluang.
Kalau belajar piano Anda mau?
Tidak. Untuk apa saya belajar piano? Alat ini tidak bisa digunakan untuk musik tradisi. Lagi, karena tangan saya sudah bisa dengan tradisi, tidak lentur lagi untuk bisa memainkan piano. Susunan talempong saya agak aneh, nada tinggi terletak di tengah, sedangkan piano, nada rendah di kiri dan nada tinggi di kanan. Susunan nada talempong saya: do mi sol si du la fa re sedangkan nada piano do re mi fa sol la si du.
Susunan nada talompong seperti itu memungkinkan saya dapat memainkan melodi dengan cepat. Grup lain sekarang sudah banyak yang menggunakan susunan talompong seperti itu.
Siapa saja yang pernah belajar dengan Anda?
Kalau di kampung, ya anak-anak di kampung saya, guru-guru di Padang. Orang asing juga ada, ada orang Amerika sekarang kawin dengan orang Yogyakarta dan tinggal di sana dan David dari Australia.
Di mana saja Anda pernah tampil?
Di Indonesia misalnya, di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) beberapa kali, di Taman Ismail Marzuki (TIM) beberapa kali, dan di Surabaya. Di luar negeri, misalnya di Malaysia 9 (sembilan) kali, di Eropa 5 kali: Belanda, Yunani, Jerman, dan Spanyol. Di Asia selain Malaysia, pernah tampil Brunei, Singapura, dan Jepang.
Anda mengatakan bahwa sampelong adalah peninggalan Budha. Ada indikasi lain, selain di musik yang dapat dikatakan sebagai peninggalan Budha?
Ada. Banyak sekali. Contohnya: tidak sah berdoa kalau tidak membakar kemenyan; kalau orang meninggal harus diperaingati 3 hari, 7 hari, 21 hari, sampai 100 hari; percaya kepada tempat-tempat sakti; takut terhadap pohon-pohon besar; adanya nama negeri seperti Biaro; mantra-mantra yang digunakan.
Berkaitan dengan mantra ini, saya masih ingat antra yang sering dibaca nenek saya:
handu sonsang, Quran sonsang, barih isilam, manuriuh katarayo
datang ongkau dari aua bose, pulang ongkau ka aua bosea
datang onkau dari baringin sati pulang ongkau ka baringin sati
kalau ongkau indak poi, kau konai sumpah dek Bataro Guru
Siapa itu Bataro Guru?
Hal lain dapat pula dilihat pada orang yang sedang piturunan (kesurupan). Biasanya mereka menggigau seperti bernyanyi:
urang gunuang
urang gunuang
urang gunuang
urang gunuang
nan diam di Piobang
nan basarang di katapian godang
kami lah tibo pulo
(dilagukan)
Nadanya kan si la do re mi, itu Budha. Padahal, orang yang kena pituruan ini sehari-seharinya tidak bisa sama sekali menyanyi. Kalau di suruh ulang, dia tidak bisa mengulangnya lagi. (Abel Tasman dan Almarhum Yusriwal)
Inyiak Upiak Palatiang
Tak Mengenal Henti Bersilat
OLEH Abel Tasman/DKSB
Namanya Inyiak Upiak Palatiang. Perempuan. Usianya sudah 105 tahun. Malam itu, 19 Maret 2005, di Teater Tertutup Taman Budaya Sumatra Barat, dalam pertunjukan maestro seni Dewan Kesenian Sumatra Barat dalam Pentas Seni IV, dia jadi “bintang”. Kepiawaian Inyiak Upiak Palatiang dalam seni tradisi silat Minangkabau dan kemerduan suaranya menyanyikan dendang ciptaannya, menjadikan dia sosok yang ditunggu-tunggu penonton.
Di atas pentas, Inyiak Upiak Palatiang terlihat masih lincah. Kaki dan tangannya masih cepat bergerak cepat. Sorot matanya tajam mengawasi gerak-gerik lawan. Malam itu, Inyiak Upiak Palatiang telah memperlihatkan “magis”, filosofis, dan makna dari seorang pesilat atau pandeka (guru besar) silek tuo (silat tua) dalam tradisi Minangkabau, serta seorang maestro seni tradisi Minangkabau.
Inyiak Palatiang dalam suatu kesempatan di depan Jam Gadang pada hari Minggu 14 Desember 2003 lalu, di hadapan para pejabat dan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia, menampilkan silat tua Gunung. Langkahnya gesit, tatapan matanya tajam dan waspada. Ia menghalau serangan lawan dengan elakan (gelek) dan tangkisan (tangkih). Ketika tangan lawan mengarah ke dadanya, secepat kilat ia tangkap dan pelintir dengan satu gerakan mengunci. Lawan pun dibuatnya tak berkutik. Sepertinya fisik Inyiak tak renta dimakan usia, menyaksikannya bersilat, seolah usianya baru 40-an.
Inyiak Palatiang sekarang tinggal bersama anak tertua dan cucu-cucunya di Dusun Kubugadang, Kecamatan Padangpanjang Timur, Kota Padangpanjang. Sepanjang siang ia tetap beraktivitas: membersihkan halaman rumah rumah, menyiangi padi di sawah atau berjalan ke pasar. Namun menurut pengakuan anak dan menantunya, sejak tiga tahun belakangan, Inyiak tak lagi diizinkan bekerja di sawah. Yang masih ia lakukan adalah mengurut (memijat) bila ada orang yang meminta pertolongannya. Bila tak ada kegiatan sepanjang siang, Inyiak berkeliling ke sana ke mari, ke tempat sanak saudara atau ke tempat anak cucunya yang lain di sekitar Padangpanjang dan Tanah Datar. Sering juga ia duduk-duduk di kedai berbincang-bincang dengan anak-anak muda sambil sesekali berdendang atau memperagakan gerakan-gerakat silat bila diminta. Ia memang lebih senang bergaul dengan anak-anak muda.
Inyiak Palatiang lahir tahun 1900. Selain dikenal sebagai pesilat dan pendendang yang sudah digelutinya sejak kanak-kanak, di masa lalu Inyiak juga dikenal orang kampungnya dan daerah sekitarnya sebagai dukun beranak. Selain mampu menolong seorang perempuan yang akan melahirkan, ia juga sering dimintai bantuan untuk mengobati orang yang kesulitan mendapatkan keturunan, dimintai nasehat bagi yang kesulitan mendapatkan jodoh dan memperbaiki rumah tangga yang terganggu keharmonisannya. Selain itu ia juga menguruti seseorang yang persendiannya sakit atau tulang terkilir.
Inyiak akan terlihat penuh semangat kalau diminta berdendang atau bersilat. Bagi Inyiak, silat merupakan tradisi Minang yang sangat diminati masyarakat. Dalam pandangan Inyiak, silat mengandung nilai dan filsafat yang kuat. Menurutnya, silat pada zahirnya adalah mencari kawan, dan secara batiniah mencari Tuhan. Pengertiannya, silat adalah ajang untuk silaturrahmi, memperkokoh persaudaraan, kebersamaan dan persatuan. Keberadaan seorang guru silat mampu mempersatukan banyak orang, dari mana pun mereka berasal. Jika menyebut nama sang guru, berarti mereka bersaudara.
Mencari Tuhan diterangkan Inyiak lebih jauh, maknanya, bagaimana mendekatkan diri manusia kepada-Nya. Menyadarkan orang yang berniat jahat sekaligus menyadarkan kita sendiri. “Makanya, dalam prosesi bersilat, turun ke gelanggang, berdoa kepada Tuhan dan keselamatan atas Nabi menjadi yang utama. Murid yang ingin menuntut ilmu silat pun harus memenuhi persyaratan. Misalnya mempunyai niat dan hati bersih, tidak untuk gagah-gagahan. Perlu diingat, silat bukanlah untuk membunuh orang, tetapi membunuh sifat-sifat buruk seseorang seperti busuk hati, buruk sangka, dengki, sok jagoan dan sebagainya. Begitulah hakikat silat menurut Inyiak Palatiang. Penuh dengan ajaran-ajaran untuk menuju kebaikan dan kebenaran.
Menurut Inyiak, sebagai ilmu bela diri, silat tak kalah hebat dari ilmu bela diri lainnya. Silat itu ilmu Tuhan. Runcing tapi tidak menusuk. Tajam tapi tak meyayat. Itulah salah satu filsafat silat. Dituturkan Inyiak, letak keunggulan silat tradisi Minang itu di gelek, gerakan refleks yang bagaikan kilat menyambar atau mengelak. Apa pun jenis senjata, termasuk peluru yang ditembakkan, bukanlah hal aneh dalam silat tradisi Minang. Secepat peluru melesat, lebih cepat lagi tangan menangkap. Seseorang yang sudah tinggi ilmu silatnya bisa jatuh bak kapas atau hinggap di daun seringan kapas.
Selain sebagai seorang perempuan pendekar silat satu-satunya yang masih hidup, Inyiak Upiak Palatiang juga seorang seniman yang telah menciptakan ratusan syair/lagu dendang saluang dan pantun-pantun pertunjukan randai. Ia juga adalah seorang pendendang kondang.
Lagu/ syair dendang ciptaan Inyiak yang terkenal anatara lain Singgalang Kubu di Ateh, Singgalang Gunuang Gabalo Itiak, Singgalang Ratok Sabu, Singgalang Layah, Singgalang Kariang, Singgalang Alai, Indang Batipuah, dan Parambahan Batusangka.
Sebagaimana dikatakan Musra Darizal Rajo Mangkuto (56), seniman tradisi Minang dan salah seorang murid Inyiak, “Selain telah menciptakan ratusan syair/ lagu dendang saluang dan pantun-pantun untuk randai yang sampai sekarang karya-karyanya masih dikagumi orang. Inyiak juga seorang pendendang terkenal yang penuh karisma. Pitunang (daya pikat) suaranya amat mengagumkan.”
Menurut Musra, atau yang lebih dikenal Da Katik, yang khas dari syair-syair ciptaan Inyiak, ia suka lagu-lagu ratok (ratap) atau lagu-lagu rusuah (risau hati). Pilihan kata atau sampiran pada lagu/ syair ciptaannya cerdas dan punya logika. Jika syair-syair itu didendangkan sendiri oleh Inyiak, kekuatannya menjadi lain. Garinyiak (vibra) atau pitunang suara Inyiak sangat memukau. Mendengar sura Inyiak, orang bisa tertarik, terkesima, dan jatuh hati. Sesuatu yang jarang dimiliki pendendang lain.
Sekarang, di usianya yang sangat tua, Inyiak ingin selalu bersilat dan berdendang. Sebagaimana dinyatakan anaknya, saat tidur pun ia masih sering berdendang. Bila ditantang bersilat ia masih garang. Inyiak Palatiang benar-benar adalah seorang pewaris dan pelestari tradisi Minang yang tak lekang.***
Manti Menuik
Merawat Seni TradisI Minang dengan Tulus
OLEH Abel Tasman/DKSB
Namanya Manti Menuik. Laki-laki. Usianya sudah 81 tahun. Malam itu, 19 Maret 2005, di Teater Tertutup Taman Budaya Sumatra Barat, dalam pertunjukan maestro seni tradisi Minangkabau yang digelar oleh Dewan Kesenian Sumatra Barat (DKSB) dalam Pentas Seni IV 2005, dia tampak masih tegar memainkan silek jalik, tari Adok, dan Tan Bentan, salah satu seni tradisi Minangkabau yang masih ada sampai sekarang. Lelaki itu salah seorang pewarisnya. Kepiawaian Manti Menuik memainkan silek jalik, tari Adok, dan Tan Bentan, bagian seni tradisi Minangkabau menjadikan dia sosok yang ditunggu-tunggu penonton. Manti Menuik malam itu hadir sebagai salah seorang maestro seni Minangkabau dari tiga orang maestro yang diundang khusus DKSB, yaitu Islamidar dan Upiak Palatiang.
Di atas pentas, karena usianya yang sudah tua, gerakannya tampak agak lamban. Namun, kaki dan tangannya masih bergerak mantap. Sorot matanya tajam mengawasi gerak-gerik lawan. Tubuhnya merespons sangat baik. Malam itu, Manti Menuik telah memperlihatkan “magis”, filosofis, dan makna dari seorang pesilat atau pandeka (guru besar) silek tuo (silat tua) dalam tradisi Minangkabau, serta seorang maestro seni tradisi Minangkabau.
Mendengar bunyi adok (sejenis gendang) yang elok, apalagi suara penyanyi (pendendang) yang rancak, dia akan menari dengan totalitas dirinya: “Raso ka patah lantai (Rasa mau patah lantai),” katanya. Begitulah spirit tari Adok atau Tan Bentan yang dirasakan Manti Menuik—sang maestro penari tradisi paling gaek yang ada di ranah Minang saat ini. Tari Tan Bentan, Tari Piriang, silat Jalik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hayatnya. Bila menari, Manti Menuik seperti ekstase—larut dalam irama dan liukan gerak tubuh yang seolah tak ingin berhenti.
Nama Populer
Manti Menuik adalah panggilan populer. Ia diberi nama oleh orangtuanya Jamin, yang setelah dewasa ditambah dengan gelar Manti Rajo Sutan. Manti (panungkek atau tangan kanan dari penghulu) merupakan gelar warisan dari sukunya Guci. Manti Menuik lahir pada tahun 1924 di kampung halamannya Saniangbaka, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok. Sejak kecil sampai sekarang, ia tetap tinggal di kampung, tak pernah merantau seperti banyak warga Saniangbaka atau lelaki Minang lainnya.
Pendidikan formalnya hanya sampai kelas dua Sekolah Rakyat, hanya sampai bisa tulis baca. Katanya tak sanggup meneruskan sekolah karena uang sekolah mahal. Namun belajar Al-Quran atau mengaji di surau ia jalani sampai tamat, sehingga ia sekian lama menjadi guru mengaji di sebuah surau dekat rumahnya beberapa tahun lamanya.
Sebagaimana pemuda Minang lainnya, Manti Menuik belajar bersilat. Belajar tradisi bela diri Minang ini ia mulai sejak tahun 1938. Ia belajar silat pada Said Sutan Basa—seorang Pandeka Saniangbaka yang terkenal dengan silatnya Singo Barantai. Tentu saja Manti Menuik juga belajar silat asli Saniangbaka Balam Balago. Namun dikatakannya, ia tak terlalu menguasai silat Singo Barantai, penguasaannya lebih fasih pada silat Jalik—silat bungo atau kata dalam bela diri karate. Silat Jalik lebih sebagai peragaan keindahan gerakan silat. Dan memang ia lebih menonjol kemampuannya dalam bidang tari.
Sejak Kecil Belajar
Setelah cukup dengan bekal kemampuan bersilat yang ia miliki, Manti Menuik belajar tari pada tahun 1948. Ia berguru pada Tamin Sutan Sati dan Husin Mantiko. Ia mempelajari Tari Piriang, tari Tan Bentan dan randai. Beberapa lama setelah itu, ia sudah sering tampil menari di berbagai nagari dan daerah sekitar seperti Malalo, Paninggahan, Padangpanjang dan Bukittinggi. Puluhan tahun belakangan ia bersama kelompoknya juga sering tampil di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Bersamaan dengan penguasaannya dalam bidang tari itu ia, juga mulai mengajar tari. Ia menjadikan lapaunya sebagai sasaran (tempat belajar silat atau tari) di malam hari atau halaman rumah gadangnya sebagai tempat belajar silat. Kadang ia juga melatih muridnya bersilat dan menari di surau milik kaumnya. Dalam mengajarkan tari, Manti Menuik langsung mengajak muridnya satu per satu dan berganti-ganti untuk menari. Ia tak melatih tari seperti gaya latihan menari saat ini, yakni dengan memberi contok gerakan, lalu menyuruh murid menirukannya secara serempak. Dengan demikian, saat melatih murid-muridnya, Manti Menuik tak pernah berhenti menari.
Manti Menuik adalah maestronya Tari Piriang, Tan Bentan dan silat Jalik. Tari Piriang yang ia mainkan khas tari piringnya Saniangbaka. Gerakannya indah, enerjik dan mengagumkan. Begitu pula bila ia menampilkan silat Jalik. Yang paling menarik adalah bila ia membawakan tari Tan Bentan, tarian khas yang ada di kenagarian sekitar Danau Singkarak. Konon tarian ini asalnya memang dari Saniangbaka.
Tari Tan Bentan adalah bercerita tentang cuplikan kisah perebutan Puti Bungsu oleh Imbang Jayo dan Cindua Mato. Karena kesaktiannya, Cindua Mato berhasil mengalahkan Imbang Jayo. Tari ini terdiri dari lima bagian yang merupakan peristiwa perseteruan antara Cindua Mato dengan Imbang Jayo: Pada-pada (pado-pado), Dendang-dendangan, Adau-adau, Din-din dan Jundai.
Menitis pada Anaknya
Pado-pado adalah pengungkapan filosofis dalam bentuk gerak tari dari ungkapan; babuek baik pado-padoi, babuek buruak sakali jaan. Dendang-dendangan, lagu-lagu menyenangkan yang dibawakan Cindua Mato di hadapan Imbang Jayo supaya Imbang Jayo tak mencurigai Cindua Mato. Adau-adau adalah cerita atau lagu yang diusampaikan Cindua Mato untuk membuat Imbang Jayo tertidur, pada tahap ini Puti Bungsu ikut menari yang makin menghibur Imbang Jayo. Tertidur atau talalok dalam pengertian ini adalah talalok dalam pengertian karakter atau talalok yang dimaksudkan di sini adalah takicuah, karena Cindua Mato bermaksud merebut Puti Bungsu.
Din-din adalah usaha yang dilakukan Cindua Mato untuk mendinginkan atau menyejukkan hati Imbang Jayo dan masyarakat Sungai Ngiang supaya mereka tidak curiga sama sekali dengan tindakan yang akan dilakukan Cindua Mato. Jundai berkisah tentang serangan atau perang batin yang dilakukan Cindua Mato terhadap Imbang Jayo. Imbang Jayo akhirnya kalah dan bangun dari tidurnya dalam keadaan gila (jundai). Itulah makna tari Tan Bentan yang sering ditampilkan Manti Menuik.
Di samping menari dan bersilat atau melatih tari dan silat, sehari-harinya Manti Menuik menjalankan kegiatan hidupnya dengan pergi ke sawah pada pagi hari. Sehabis Zuhur dia pulang, kemudian meneruskan kegiatan di lapau atau kedai kopi yang dimilikinya. Di tempat ini pula setiap pekan ia melatih tari dan silat.
Manti Menuik menikah untuk pertama kalinya pada tahun 1944. Sampai sekarang ia telah menikah dengan delapan orang perempuan. Namun dari kedelapan istrinya itu ia hanya memiliki tujuh orang anak. Di antara tujuh anaknya itu, empat orang telah meninggal dunia. Tiga orang yang masih hidup hidup yakni Safri (52), Eri Mefri (47), dan Rahmi (17). Eri Mefri adalah pewarisnya dalam bidang tari. Eri adalah seorang penari dan koreografer terkenal pimpinan Sanggar nan Jombang.
Di hari tuanya saat ini, Manti Menuik tinggal dengan istri termudanya Nisma dan dengan putrinya Rahmi, di lapaunya yang sudah berubah fungsi menjadi rumahnya. Sejak beberapa tahun terakhir, lapau itu tak lagi berfungsi sebagai kedai kopi. Sehari-harinya Manti Menuik tetap pergi ke sawah, “Untuk tetap mengeluarkan keringat, kalau tak berkeringat badan menjadi lemah,” katanya. Setiap Senin malam ia melatih tari di rumah gadang milik Tarmizi, Wali Nagari Saniangbaka yang sekaligus bertanggung jawab memimpin kelompok tari yang terdiri dari sekitar 30-an anak muda itu.
Sampai usia tuanya saat ini, Manti Menuik, masih terus menari, mempertahankan dan melestarikan seni tradisi. Tradisi yang sudah lama sepi di negeri ini. Begituh Manti Menuik, sang maestro seni tradisi, ia tak akan pernah berhenti menari. Panggilan hidupnya adalah menari. Dan ia akan menari sampai mati.***






leave a comment