Mantagisme

Mak Sawir Sang "Raja Bagurau"

Posted in MAESTRO SENI by maknaih on January 5, 2008
Mencari di mana keberadaan seniman tradisi Minang seperti Sawir Sutan Mudo (65) ternyata susah-susah gampang. Sederet informasi tentang keberadaan Sawir bagai menguap saat lokasi-lokasi yang ditunjukkan itu didatangi.

Hanya keberuntungan yang akhirnya mempertemukan kami. Setelah pencarian hingga tengah malam gagal ’menemukan’ jejak keberadaan Sawir, keesokan harinya—sesaat sebelum meninggalkan Bukittinggi menuju Padang Panjang untuk kembali ke Jakarta—seorang teman dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padang Panjang datang memberi saran.
“Kita coba mampir dulu ke sebuah rumah makan di Pasar Bawah. Menurut kabar terakhir, belakangan ini dia sering tidur di sana,” kata Hanefi, Ketua Jurusan Seni Karawitan pada STSI Padang Panjang.
Dugaan Hanefi benar. Setelah menuruni deretan anak tangga yang cukup banyak (ada sekitar 100 anak tangga) dari Pasar Atas Bukittinggi, Jufri—juga dari STSI Padang Panjang—yang tiba lebih dulu di Pasar Bawah dengan mengendarai mobil, mengabarkan lewat telepon seluler bahwa Sawir memang ada di rumah makan itu.
“Mak Sawir tadi malam tidur di atas meja makan ini,” kata sang pemilik rumah makan ketika kami tiba di sana.
Sejak beberapa bulan terakhir, Mak Sawir—begitu ia biasa disapa—memang jarang pulang ke rumahnya di Kampung Tengah Sawah, Bukittinggi. Malam-malam sehabis bagurau (begitulah masyarakat Minang menyebut jenis pertunjukan Mak Sawir dengan lantunan dendang yang diiringi tiupan saluang) memenuhi panggilan orang yang menggelar hajatan, menjelang subuh ia mengetuk pintu rumah makan dan tidur di sana.
Meja makan yang pada siang hingga menjelang tengah malam biasanya dipakai untuk tempat hidangan dimanfaatkan Sawir sebagai tempat merebahkan diri melepas lelah. Pagi sebelum pelanggan pertama datang, biasanya Sawir sudah menghilang.
Beruntung, pagi itu ia masih ada. Ia sudah berpakaian, bersiap untuk pergi entah ke mana, meski terlihat wajahnya yang lelah tak bisa menyembunyikan kantuk.
“Saya pesan kopi pahit saja,” kata Sawir saat ditawari sarapan. “Ada masalah rumah tangga,” ujarnya pendek ketika disinggung mengapa ia tak pulang kepada istrinya, Syakni Deliyarti (52), di Kampung Tengah Sawah, Bukittinggi.
Berguru pada kehidupan
Sawir Sutan Mudo atau biasa dipanggil Mak Sawir dilahirkan tahun 1942 di Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Tak lama setelah kelahirannya, bungsu dari empat bersaudara ini ditinggal pergi ibunya, Siti Saleha. Pada usia enam tahun, ayahnya, M Isa, juga berpulang.
Hidup tanpa kedua orangtua sejak kecil membuat Sawir lebih cepat mandiri. Bahkan pada usia sembilan tahun ia sudah ikut saudaranya merantau ke Palembang dan Lubuk Linggau di Sumatera Selatan.
Di samping berjualan buah-buahan dan pakaian di kaki lima, selama di perantauan itu Sawir terus memperdalam kemampuan berdendang, yang sudah ia pelajari di kampung. Berkat kemampuannya berdendang dengan iringan saluang, juga lantaran kebisaan dia bermain randai, Sawir kerap diundang mengisi acara pesta perkawinan atau pertemuan orang Minang di perantauan.
Alhasil, bagi Sawir—yang cuma mengenyam pendidikan formal hingga kelas IV sekolah rakyat (SR)—masa-masa di perantauan itu bukan saja bagian dari ’aktivitas pendidikan’ informal untuk menempa kematangan diri dalam mengarungi hidup. Kehidupan di rantau juga ia jadikan medium tempat mengasah kemampuan memperdalam seni tradisi leluhur.
Tahun 1968 ia pulang kampung. “Balek ke nagari, kawin (Sawir dua kali menikah, tahun 1968 dan 1972) sekaligus mengembangkan seni budaya tradisi di kampung halaman,” ujarnya.
Kegiatan berdagang di rantau tak ia tinggalkan. Bedanya, kalau selama di rantau Sawir mangkal di satu tempat, sejak pulang ke kampung halaman di tepian Danau Maninjau ia harus bergerak dari satu pekan (pasar di kampung-kampung yang dilangsungkan sekali dalam seminggu) ke pekan lain.
Begitu pun setelah ia memutuskan pindah ke Bukittinggi pada 1970-an, berdagang di kaki lima lalu sesekali pergi ke pekan-pekan tetap merupakan pekerjaan pokoknya. Pakaian-pakaian bekas jadi dagangan utamanya.
Di luar kegiatan rutin tersebut, Sawir terus memperdalam kemampuan berdendang saluang secara otodidak. Pengalaman adalah sekolah terbaiknya, dan alam kehidupanlah tempat ia berguru. “Alam takambang jadi guru,” kata para cerdik cendekia Minang. Begitu pula jalan hidup Mak Sawir dalam berkesenian.
“Berdendang itu harus mengetahui peristiwa-peristiwa pada kehidupan sehari-hari. Itu semua bahan untuk berdendang, untuk menciptakan pantun yang segar tapi berisi. Berpantun itu kan penuh dengan ibarat, penuh nasihat. Karena itu pula berdendang saluang itu lebih sulit daripada memainkan musiknya,” tutur Sawir.
Sejak bermukim di Bukittinggi, nama Sawir Sutan Mudo mulai dikenal luas. Bukan saja permintaan tampil bagurau datang dari banyak orang yang menyelenggarakan hajatan, perusahaan rekaman pun mulai melirik lantunan suara Mak Sawir.
Sejak pertama kali rekaman dalam bentuk kaset dan piringan hitam pada 1972, menurut Sawir, sudah lebih dari 50 album berisi rekaman suaranya beredar di pasar. Bahkan ia pun diminta rekaman dalam bentuk VCD karaoke.
Nama Sawir Sutan Mudo kian menjulang. Tak hanya dikenal luas di tanah Minang, tetapi juga di kalangan para perantau Minang di berbagai kota di Tanah Air. Sesekali ia diundang hadir di kota tertentu untuk memuaskan rindu para perantau pada kampung halaman. Setiap Senin malam Sawir mengisi acara khusus dendang saluang di RRI Bukittinggi. Tahun 1999 bersama kelompok musik Talago Buni pimpinan Eddy Utama, Mak Sawir disertakan berpentas di tujuh kota di Jerman pada Festival Musim Panas.
Kayakah dia? Tidak! Seperti nasib kebanyakan seniman tradisi di Tanah Air, hidup Sawir jauh dari berkecukupan. Dari hasil rekaman suara, Sawir hanya mampu membangun rumah sederhana untuk anak-istri di Kampung Tengah Sawah, Bukittinggi.
Kalaupun ada lebih, pendapatan itu ia gunakan menambal modal usaha yang kerap “bocor” lantaran uang hasil dagang di kaki lima sering terpakai untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Malah di saat rumah tangganya bermasalah, Sawir harus menumpang tidur dari satu tempat ke tempat lain.
Bagaimana mungkin bisa kaya kalau honor yang ia dapat hanya Rp 1 juta sekali rekaman kaset dan Rp 3 juta untuk VCD karaoke. Dengan sistem ’kontrak putus’, tak ada royalti yang ia dapat, sekalipun bila kasetnya laku keras. Adapun bila diundang bagurau paling-paling ia terima honor Rp 300.000 sekali pentas.
Akan tetapi, kenyataan ini tidaklah terlalu merisaukan Mak Sawir. Ia justru lebih resah melihat kenyataan akhir-akhir ini banyak lagu dendang saluang yang dirusak oleh lirik-lirik berbau pornografi.
Pantun-pantun dendang yang tertib, penuh kiasan dan nasihat tentang kehidupan, kini mulai digantikan lirik yang semata-mata lebih mengedepankan unsur hiburan. Kearifan tentang filosofi hidup di balik seni tradisi itu pun kian tergerus zaman…. (mhd/ken)
Biodata

Nama: Sawir Sutan Mudo
Lahir: Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, tahun 1942
Pendidikan: Sampai kelas IV SR
Istri: Syakni Deliyarti (52)
Anak:
– Sumiati
– Syafrial
– Syarfil
– Kurniawati
– Rina Rahmadani dan Rini Ramadani (kembar)
– Fatimah Zahara
– Fajori Rachman

Kompas, Sabtu, 05 Januari 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: